“Coca Noba” Coblos Caleg Nomor Bawah, Boleh Juga…

Seorang kawan mengirim link ajakan “coblos caleg nomor bawah”, boleh juga neh…

Ajakan itu ramai dikemas dalam ungkapan “Coca Noba” alias Coblos Caleg Nomor Bawah. Berisi link youtube berisi lagu yang unik. Dibilang unik, karena isinya anomali –dibuat oleh pemilik identitas “Partai Golput”, tapi tetap menganjurkan memilih. Hanya saja, anjuran memilihnya disertai embel-embel, “Coblos Caleg Nomor Bawah…”

Di lagu bernuansa rancak itu ada lirik, “Ayo bantu KPK, bersihkan legislatif, coblos caleg nomor bawah. Hukum mati partai koruptor, balaskan dendam rakyat” Jadi teringat, materi dialog Kompas Malam di KompasTv, kemarin (17/2). Kami membahas buruknya kualitas legislatif, ditandai banyak absennya anggota DPR, terutama saat menjelang Pemilu seperti ini. Rapat-rapat dibiarkan kosong, dengan dalih “berkunjung ke konstituen”.

Bahkan Ketua DPR Marzuki Alie pun tak habis pikir atas kelakuan anggotanya, yang ramai-ramai meninggalkan Senayan menuju daerah pemilihan. “Hari ini saya sendirian di DPR, mulai menerima tamu Kementerin Kehutanan dan masyarakat Jambi, pedagang ITC Mangga Dua, sampai menyelesaikan soal pupuk organik. Semua saya temui sendirian. Yang lain pergi ke dapil,” kata Marzuki.

Belakangan saya menemukan tautan lain, yang menjelaskan alasan mengapa ajakan memilih calon legislatif nomor bawah ini dibuat. Mereka mengacu kecewa atau sikap dari partai politik, semisal, partai hanya membuat sensasi. Sikap partai itu misalnya menyatakan anti korupsi tapi kadernya melakukan korupsi, Siap menjadikan kader suara terbanyak menjadi caleg terpilih tetapi dalam penyusunan caleg bukan berdasarkan abjad, beriklan besar besaran tapi laporan dana kampanye tidak besar.

Sifat buruk elit partai lain yang disorot yakni saling serang, serta memainkan dagelan Politik (koalisi tanpa konsepsi ideologi, silaturahmi basa basi, bangunan kelompok, blok atau poros tanpa prinsip kejuangan kebangsaan sekedar poros perjuangan kekuasaan).

Coblos bawah Indonesia berubah?

Jadi terkenang pula, gagasan yang dibuat almarhum Franky Sahilatua dkk pada Pemilu 2004 bertajuk “Jangan Pilih Politisi Busuk”. Dengan pengerahan segala macam platform, tetap saja kampanye itu dirasa kurang efektif. Buktinya, dua pemilu berlalu, tetap saja kualitas legislatornya tak juga lebih baik.

Mereka kemudian menyebut gagasan Baru, “Coca Noba” Coblos Caleg, Nomor Bawah, sebagai sebuah bentuk perlawanan rakyat yang dapat dilihat secara langsung hasilnya. Dengan Keputusan MK tentang penetapan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak, maka dapat dipastikan partai akan “shocked”, apabila pada kenyataannya caleg yang ditetapkan sebagai caleg terpilih adalah caleg dengan nomor urut bawah, karena merekalah yang dipilih rakyat.

Shocked ini terjadi pada elite partai dan struktural partai dengan beberapa kenyataan, misalnya elite partai tidak terpilih , karena penetapan nomor urut yang dilakukan oleh partai adalah berdasar pada penilaian kerja kader terhadap partai. Selain itu, caleg kaya tidak dipilih, karena penetapan nomor urut yang dilakukan partai “mungkin” berdasar pada penghargaan calon yang memberikan “setoran dana kampanye” pada partai.

Jika kampanye ini berhasil, maka anggota legislatif 2014 -2019 mayoritas orang baru, karena tidak dikandidatkan partai dan cenderung pemberian penghargaan nomor urut pada “jasa” terhadap partai maka besar kemungkinan caleg nomor urut bawah adalah mereka yang tidak diperhitungkan oleh partai. Juga caleg nomor bawah loyalitas pada partai rendah, karena ditetapkan di nomor bawah dapat diartikan mereka adalah caleg yang tidak diperhitungkan maka apabila menjadi jadi mereka akan menjadi lebih loyal pada rakyat daripada loyal terhadap partai yang telah “tidak memperhitungkan” dirinya.

Akhirnya, ajakan ini menegaskan, “Saatnya sadar berpolitik, saatnya melakukan perlawanan terhadap hegemoni partai politik, saatnya memikirkan mengambil sikap yang baru. Saatnya batalkan pemikiran untuk golput, datang dan partisipasilah dalam Pemilu, Kamis 9 April 2014. Taglinenya, “ Anggota dewan berganti wajah, Indonesia berubah….”

This entry was posted in politic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s