Mendokumentasikan Tak Sekadar Petualangan

Pilihan video kelompok ini pada program dokumenter perjalanan. Asyik, meskipun tentu masih ada kekurangan.

Mereka memberi judul petualangan ini “Bro Traveller”. Sekelompok anak muda, yang mencoba menaklukkan Gunung Gede dalam sebuah perjalanan tak terlupakan.

Raki Ahmad, FauzanAzis, Muhammad Annas, Jordan Haekal, Adindityo Putra, Ryan Rizal, Jeane Felicia, Ebryan Ardi, Fajar Jufri, Muhamamad Iqbal, Romli Permana, dan Ismail Juliansyah, bahu-membahu mewujudkan kenanganini: kebersamaan bersejarah sekaligus proyek tugas akhir mata kuliah Editing & Pasca Produksi Televisi.

Secara jalan cerita, kemasan kisah mereka cukup runut. Berawal dari kawasan kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di GadingSerpong, mengarah ke tujuan Bogor, termasuk lika-likumenuju lokasi. Sayang, seandainya saja kelompok ini menambahkan sedikit “sentuhan” artistik, bisa jadi hasilnya lebih cihuy. Misalnya, dengan memberi grafis arah, petunjuk, serta berapa hitungan jarak dalam kilometer maupun waktu tempuh dari Tangerang menuju kotahujan.

Sebagai panduan sekaligus kisah naik gunung, alangkah baiknya bila video ini tak miskin CG (character generator), misalnya diberikan teks narasi, apa saja keperluan standar yang dibutuhkan untuk naik gunung. Mulai dari matras, sleeping bag, parafin, jas hujan, pisau serba guna, dan lain-lain.

Pada beberapa adegan, kelompok ini seharusnya juga bisa menyiasati sekuen-sekuen yang tampak terlalu lama dan membosankan.Misalnya, ketika masuk pada scene lombamendirikan tenda. Jika tak diedit dengan tegas, cobalah diberi daya tarik, misalnya musik latar, teks, atau narasi yang menggoda, dan membuat pemirsa “betah” di layar.

Sebenarnya, selain menggambarkan bagaimana trik untuk naik gunung, peralatan apa yang dibutuhkan, dan menjaga fun dalam perjalanan, video ini seharusnyamenampilkan “beauty shoots”. Keunggulan program tentang alam seharusnya adalah visual alam itu sendiri, yang membuat orang bisa ber-“ccckkk… ccck…. ccckk…” tentang keindahan Gunung Gede. Itulah kekurangannya karya ini, kurang mengeksplorasi venue dengan optimal.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s