Mencari Harta di Taman Burung

Ini juga kemasan program game show. Dari Taman Mini Indonesia Indah mereka mengemas kisah…

Juduln permaianan mereka ‘Cari Harta’. Mengambil setting lokasi di Taman Burung Taman Mini Indonesia, enam orang dalam kelompok Editing dan Pasca Produksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini mencoba mengemas permainan outdoor bernuansa lain. Riza ‘Anggi’ Annisa, Michael, Frederick, Stefanny Nadhia, Mona Kuntara, dan Tio Jerry menampilkan karya mereka dengan ekselen.

Permainan ini dibagi dalam tiga sesi. Babak pertama, dua tim, kelompok Merah dan Orange –masing-masing berisi dua orang harus memotret burung sesuai dengan nama yang ditentukan.

Pengambilan gambar sesi "Mencari Buku Langka". Temukan buku kuno dalam 3 bahasa.

Pengambilan gambar sesi “Mencari Buku Langka”. Temukan buku kuno dalam 3 bahasa.

Permainan kedua, keempat orang ini harus mengeksplorasi stand buku langka, mencari buku tiga Bahasa sesuai terbitan yang ditentukan, yakni antara “1956-1965” dan “1966-1975”. Maka, sang host -Frederick Sawada- pun berseru, “Let’s the game, begins…”

Permainan ketiga, mereka harus menjadi pembaca berita sambil mengikuti permainan ketangkasan nan mendebarkan dan menuntut konsentrasi tinggi. Puncaknya, mereka harus menyusun kata berdasarkan clue yang dikumpulkan dari tiga permainan itu. Akhirnya, clue yang dimaksud adalah ‘Golden Snail’ alias Keong Emas’, salah satu ikon tempat di Taman Mini.

Gambar tajam, durasi over

Paket tayangan ‘Cari Harta’ ini mendapatkan nilaiplus karena gambarnya yang tajam dan cerah, ditambah pemilihan tempat shooting-nya nan menunjang. Selain itu, musik latar (skoring)-nya juga keren.

Di sela-sela pengambilan gambar di TMII. Kekuatan besar pada pemilihan venue.

Di sela-sela pengambilan gambar di TMII. Kekuatan besar pada pemilihan venue.

Sayang, kelemahannya masih sama dengan kelompok lain. Misalnya, terhitung pelit dalam memberi CG (character generator) atau teks. Padahal, tulisan seperti ini bisa membantu pemirsa untuk mengetahui aturan permainan, lokasi acara, serta membuat suasana tak membosankan dengan komentar lucu dan nakal.

Faktor lain, tetap saja durasi. Untuk program berdurasi tayang 30 menit, tentu saja tayangan 26 menit 35 detik ini terlalu panjang, karena belum dihitung 2 kali jeda komersial. Tapi, kelemahan itu bisa ditutupi dengan “kesan dan pesan dari peserta, mengenai kisah di balik layar dan kesan dari permainan ini. Meski, lagi-lagi sayang, pengambilan gambar “closing curhat” itu  tak disebutkan lokasinya: di kampus tercinta UMN Gading Serpong.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s