Sisi Jakarta yang Terlupa

Ini perjalanan mengeksplorasi tiga tempat di ibukota, yang kebanyakan orang belum mengenalnya.

Tema kelompok ini juga mengenai perjalanan seputar Jakarta. Hanya saja, obyek yang dipilih benar-benar berbeda dengan kebanyakan. Ada tiga museum, dua di antaranya mungkin belum pernah hadir di telinga anda: Museum Art Mon Décor, di kawan Kemayoran, dan Museum Tengah Kebun di Kemang. Satu lagi, mereka memilih mennguliti habis Museum Bahari di Jakarta Utara.

Tentu, bukan tanpa alasan Nabilah Rahmagitha, Sri Gemi Nastiti, Maria Meiditama, Monika Dhita, Erwanto Khusuma, Dita Anggreani, Serenata Rosalia, Engelberta, Hanny Prista, dan Yolanda Tanu memilih tiga obyek istimewa ini.

Museum Art Mon Decor di Kemayoran. Alternatif wisata seni di pusat kota.

Museum Art Mon Decor di Kemayoran. Alternatif wisata seni di pusat kota.

“Belum banyak warga Jakarta tahu ada beberapa lokasi wisata edukasi menarik, padahal lokasinya tak jauh dari pusat kota,” kata Erwanto, yang juga menjadi host program ini.

Musik latar mendukung

Petikan gitar akustik menjadi penunjang video ini. Musik latar (scoring), di samping narasi yang tepat membuat karya ini memiliki kekuatan, meski sebenarnya cerita/obyek yang diambil merupakan “kisah bisu”. Mungkin akan lebih menarik jika Erwanto tak hanya muncul di pembuka program, tapi juga bertutur dan mengekspolorasi setiap sudut lokasi museum, termasuk mewawancarai narasumber, yang di video ini ditampilkan tanpa keikutsertaan reporter.

Sama seperti video-video lain yang menekankan obyek pada lokasi, kelemahan karya ini juga kurang melengkapi diri dengan petunjuk lokasi (misalnya grafis peta bagaimana menjangkau lokasi itu). Hal-hal teknis juga ada yang cukup mengganggu. Misalnya, pengambilan gambar awal segmen “Museum Tengah Kebun”, di bagian awalnya kurang sedap dipandang. Headroom (bagian atas kepala Mirza Djalil) kepotong. Selain itu, suara pemandu wisata museum yang memiliki 4 ribu koleksi seni itu tampak kurang kuat.

Bersama Mirza Djalil, pemandu Museum Tengah Kebun, Kemang. Sejarah dunia ada di sini.

Bersama Mirza Djalil (tengah), pemandu Museum Tengah Kebun, Kemang. Sejarah dunia ada di sini.

Satu hal lagi, pada karya jurnalisme televisi dikenal istilah “avoid list”, hindarilah menyebut daftar! Misalnya saat menyorot isi Museum Bahari, ada narasi yang menyatakan isi museum itu antara lain: biota laut, sebaran ikan, aneka cerita serta lagu-lagu nelayan nusantara. Jamak di karya televisi, visual yang ditampilkan harus sesuai dengan narasi yang diucapkan. O ya, di Museum Bahari juga tampak wisatawan mancanegara mengamati lokasi, laksana seorang backpacker. Sayang, kelompok ini tak mengambil sound of tape dari bule itu. Jadilah, paket Museum Bahari menjadi satu-satunya venue yang tidak disertai dengan wawancara narasumber.

Berbicara durasi, untuk sebuah program 30 menit kotor, tentu saja tayangan 27 menit (belum dikurangi commercial break untuk iklan) terlalu panjang, alias over duration. Apalagi, proporsi tiga lokasi dan durasinya tak seimbang (Museum Art Mon Deco 7 menit, Museum Tengah Kebun 11 menit, dan Museum Bahari 10 menit).

Apapun, secara ide dan konsep, mereka telah mencoba out of the box. Teruslah berkembang, kawan!

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.