Banjir, Janganlah Kita Jadi Pandir

Sejak zaman kompeni sampai Jokowi memerintah, banjir telah lama menjadi sahabat ibukota.

Kartun GM Sudarta pada 1967. Kondisinya tak banyak berubah.

Kartun GM Sudarta pada 1967. Kondisinya tak banyak berubah.

Saat hadir sebagai narasumber dialog Kompas Malam, pekan lalu, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo punya ide cerdas. Ia membawa koleksi Koran Kompas edisi lawas, yang memuat berita utama tentang banjir Jakarta di akhir 1960-an dan 1970-an.

Kompas edisi Sabtu 18 Maret 1967, misalnya. Di halaman muka memasang karikatur karya GM Sudarta, yang memaparkan kontradiksi “Djakarta” pada dua musim berbeda. Digambarkan di sisi kanan, saat musim panas, ibukota penuh dengan kegiatan perbaikan jalan dan kemacetan yang membawa polusi, sehingga dua pemakai jalan tak kuasa menahan asap buruk hasil pembakaran bahan bakar. Di sebelah kiri, musim hujan, jalan yang telah diperbaiki menjadi berlubang, dan genangan air membasahi separuh postur penduduk. Ada yang nyaman berenang, tapi ada juga yang stres mobilnya karam.

Bayangkanlah, saat banjir 1967 terjadi, usia Geradus Mayela Sudarta, kelahiran Klaten 20 Februari 1948, baru 19 tahun. Kini, banjir Jakarta terus terjadi, dan terjadi lagi, saat GM Sudarta berumur lebih dari setengah abad. Satu masalah terus terjadi, berulang, dan berulang, dan kita tak juga menjadi pintar karenanya.

 Deja vu

Banjir era Orde Lama. Kapan selesai persoalannya...

Banjir era Orde Lama. Kapan selesai persoalannya…

Pada 16 Januari 2014, Harian Kompas memasang tajuk rencana bertitel “Sejarah Sedang Berulang”. Dengan mengutip isi kartun GM Sudarta pada 1967 dan 13 Februari 1970, Kompas menyebutnya sebagai deja vu, kejadian dan pengalaman nyata yang terus berulang.

 “Sejarah sedang berulang. Lokasi banjir tak banyak berubah. Identifikasi penyebab banjir sama. Beban Jakarta kian bertambah berat. Penduduk bertambah, begitu juga kepadatan penduduknya. Permukaan tanah terus turun, sementara lahan terbangun semakin luas. Pertanyaan refleksi yang kita ajukan adalah bagaimana proses belajar kita sebagai bangsa dari banjir Jakarta. Apakah siklus bencana itu akan kita biarkan terjadi dan kita pasrah menerimanya. Sejarawan Inggris, Arnold Toynbee, mengatakan yang disebutnya sebagaichallenge and respons, setiap tantangan harus memunculkan tanggapan.

Banjir Jakarta adalah tantangan yang harus dipecahkan umat manusia untuk kesejahteraan manusia. Perlu ada langkah terobosan menanggapi banjir yang selalu mengancam. Rencana normalisasi sungai, membuat sodetan, menata kawasan hilir, memastikan tata ruang harus dikawal untuk menanggapi ancaman siklus banjir sehingga tak hanya jadi wacana. Dari sejarahlah kita harus belajar.”

Dalam hidup, banyak hal akan terus terulang. Terjadi dan terus terjadi lagi. Persoalannya, apakah kemudian kita bisa memetik pelajaran, menjadi pintar, atau sebaliknya…

This entry was posted in journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s