Perempuan Besar di belakang Lelaki Hebat

Pendamping hidup memiliki peran sunyi tapi penting, di balik gemerlapnya karir seseorang.

Anas dan Athiyyah. Dalam suka dan duka.

Anas dan Athiyyah. Dalam suka dan duka.

Ada alinea penutup nan menyentuh di antara tulisan Kompas, Sabtu (11/1) dari pokok berita bertitel “Anas Dijerat Tiga Kasus”. Setelah sepuluh alinea menceritakan kabar penahanan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan kisah-kisah yang menyertainya, berita itu ditutup dengan cerita tentang isteri sang tokoh.

Istri Anas Urbaningrum, Athiyyah Laila, yang ditemui di rumahnya di Duren Sawit, Jakarta Timur, terlihat tabah. ”Iya Mas, di balik suami yang berhasil pasti ada wanita yang kuat yang mendukungnya. Di balik itu ada orangtua yang mendoakan,” kata Thiya.

What a different angle dari sebuah berita besar itu.

Athiyyah Laila Attabik, isteri Anas yang akrab disapa Mbak Tia, memiliki garis keturunan Nahdlatul Ulama nan mengakar kuat. Ayahnya, KH Attabik Ali, merupakan pemilik Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Sedangkan sang kakek, KH Ali bin Maksum bin Ahmad, adalah ulama kondang dari Lasem, Jawa Tengah. KH Ali bin Maksum lahir dari keluarga ulama keturunan Sayyid Abdurrahman alias Pangeran Muhammad Syihabudin Sambu Digdadiningrat alias Mbah Sambu. Beberapa tokoh Nahdlatul Ulama, seperti Abdurrahman Wahid, Cholil Bisri, juga Mustofa Bisri, pernah menjadi murid Mbah Sambu.

Anas Urbanigrum dan Athiyyah Laila menikah pada 10 Oktober 1999 di Yogyakarta. Mereka dikaruniai empat orang anak. Akmal Naseery (lahir 2000), Aqeela Nawal Fathina (lahir 2001), Aqeel Najih Enayat (lahir 2003), dan Aisara Najma Waleefa (lahir 2005).

Athiyyah lulusan D3 Manajemen Pemasaran Universitas Gajah Mada. Dia masuk angkatan 1994 dan lulus pada 1998. Selepas lulus dan menikah, Athiyyah memilih menjadi ibu rumah tangga. Dia mengurus anak-anaknya sendiri tanpa pembantu.

Konon, Anas dan Tia pertama kali bertemu karena diperkenalkan teman-teman di HMI Yogyakarta. Mereka tak pernah berpacaran. Masa perkenalannya pun sangat singkat, hanya empat bulan. Anas dan Tia hanya bertemu tiga kali dan bicara lewat telepon empat kali. Menurut Tia, “Saat dia melamar, saya pun sudah merasa klik dengannya.” Pakar pemerintahan Ryaas Rasyid didapuk Anas menjadi juru bicara untuk melamar kepada orang tua Tia, K.H. Attabik Ali, di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Selain Ryaas, dari pihak Anas ada juga Andi Mallarangeng dan (alm.) Affan Gaffar. Baik Anas, Ryaas, Andi, dan Affan, merupakan anggota Tim Tujuh Depdagri, yang dibentuk untuk merevisi paket undang-undang politik menjelang Pemilu 1999.

Perjalanan kisah Anas dan Tia menjadi contoh nyata, sebuah cerita pasangan dalam suka dan duka. Saat Kompas memprofilkan Anas Urbaningrum di rubrik Sosok, ketika itu Anas masih menjadi anggota KPU, diceritakan pula bagaimana pasangan itu hidup di rumah kontrakan di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, saat Anas menempuh studi S-2 di Universitas Indonesia. Kini, fase baru menguji perjalanan pasangan ini. Anas masuk tahanan KPK, dan Tia menjadi orang yang paling sibuk menyiapkan ransum makanan, demi keselamatan dan kesehatan pria yang telah 15 tahun mendampinginya itu.

Bill dan Hillary

bill hillary

Bill dan Hillary Clinton. Pengaruh perempuan dominan.

Pentingnya pasangan suami isteri dalam kiprah politik, membawa ingatan kita melayang kepada Bill dan Hillary Clinton. Sudah jamak diketahui, Hillary membawa bahtera rumah tangga mereka tetap kelihatan baik adanya –setidaknya di muka publik- saat Bill mengakui skandalnya dengan Monica Lewinsky.

Semua juga tahu, Tanpa Hillary, Bill bukanlah apa-apa. Sudah pernah dengar ceritanya, kan?

Pada suatu hari, Bill dan Hillary jalan-jalan berdua menyusuri Amerika dengan mobil yang mereka kemudikan sendiri. Tiba di sebuah kawasan sepi di pinggiran kampung, mereka harus mengisi bensin. Hillary yang saat itu kebagian giliran nyetir, turun dari mobil, dan mengisi tangki mereka. Bill yang duduk di mobil saja, jadi gelisah, lama sekali isterinya turun dari mobil, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Hingga, Hillary kemudian bercerita, “Aku tadi bertemu mantan pacarku. Dia pemilik SPBU tadi.” Bill pun tertawa terbahak dan nyeletuk, “Hahaha… seandainya kau menikah dengannya, maka nasibmu tak lebih dari isteri seorang juragan pom bensin di desa terpencil di Amerika..”

Mendapat cemoohan begitu, Hillary tak terima. Ia membalas dengan keras, “Hai William Jefferson Clinton, jaga mulutmu. Seandainya saja, aku menikah dengan pria tadi, dialah yang akan menjadi Presiden Amerika Serikat ke-42!”

Kisah Anas dan Tia, Bill dan Hillary, Obama dan Michelle, SBY dan Ani, dan juga mungkin cerita Anda dan pasangan Anda, kian meneguhkan ungkapan, “behind every great man, there’s stand greater woman.”

This entry was posted in inspiration/biography and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Perempuan Besar di belakang Lelaki Hebat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s