Surabaya, yang kian Bersinar dan Bahagia…

Surabaya tak hanya menyisakan masa lalu nan gemilang, tapi di sinilah masa depan itu berada.

Pulang pergi melintasi Selat Madura. Sekali jalan Rp 30 ribu.

Pulang pergi melintasi Selat Madura. Sekali jalan Rp 30 ribu.

Mengitari kota kelahiran, bersama orangtua, isteri, dan anak, di liburan Tahun Baru kemarin. Dari radio mobil sewaan kami, terdengar cuap-cuap pendengar berinteraksi di FM 100.0 Suara Surabaya, radio yang didesain sebagai sarana warga kota berteriak apa saja. “Saya sudah keliling Indonesia, hampir dari Sabang sampai Merauke, tapi saya kira, di Surabaya inilah kota yang iklim usahanya paling bagus,” ungkap pendengar itu.

Sudah sejak lama Kota Pahlawan ini memilih julukan “Sparkling Surabaya”, sebagai gambaran dinamisasi kota, yang senantiasa aktif dan berkelap-kelip. Julukan yang pas sebagai diferensiasi dan jualan sebuah tempat, layaknya “Amazing Thailand”, “Uniquely Singapore”, “Malaysia Truly Asia”, “Jogja Never Ending Asia”, dan lain-lain.

Surabaya, kini sudah amat berubah. Selain kian bersinar, penduduknya pun tampak lebih bahagia. Taman Prestasi di kawasan Undaan, dan tentu saja Taman Bungkul yang mendapat predikat tempat berkumpul terbaik se-Asia. Bukan semata karya Tri Rismaharini, walikota perempuan yang awalnya menjadi kepala dinas di era Bambang DH. Sejuk, banyak pohon, tapi tetap memiliki level kompetisi yang tinggi. Ini seperti antitesis untuk daerah lain yang dianggap layak sebagai “tempat pensiun”. Indah sekali tinggal di Yogyakarta, Cimahi, Bogor, atau Salatiga. Tapi, bagaimana tingkat perekonomian di daerah-daerah nan nyaman itu? Cukup bergigikah…

Jembatan Suramadu, Ciputra Waterpark

Ciputra

Pintu gerbang Ciputra Waterpark. Bernuansa Petualangan Sinbad, tokoh 1001 Malam.

Era menjadi kontributor Tempo 2004-2005, saya aktif meliput persiapan pembangunan Jembatan Suramadu, termasuk saat proyek itu memakan korban salah seorang pekerjanya. Tapi, setelah hijrah ke Jakarta pada Juni 2005, tak sekalipun saya mencecap jembatan yang melintasi Selat Madura ini, dan penggunaanya diresmikan Presiden SBY pada 10 Juni 2009.

Maka, kunjungan ke Surabaya kemarin, kami melintasi jembatan sepanjang 5,4 kilometer, yang pembangunannya memakan dana lebih dari Rp 4 triliun itu. Sangat megah, apalagi saat malam tiba, kilau cahaya di bentang tengahnya memancarkan keanggunan tersendiri.

Selain Jembatan Suramadu, kota Surabaya patut berbangga dengan hadirnya wahana rekreasi Ciputra Waterpark, taman air seluas 5 hektar di barat kota. Sekalipun harga tiketnya menyentuh Rp 100 ribu di masa libur, faktanya, para pengunjung tak protes. Waktu seharian pun tak bakal cukup berendam dan bermain air di sana. Ribuan keluarga terus meriung seiap hari, meski lokasinya tersembul di barat kota yang disebut sebagai “The Singapore of Surabaya”, jauh dari akses transportasi publik.

Surabaya kian beranjak dewasa, menawarkan kenyamanan untuk kembali. How deep can you attract me, my city?

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s