Lopes Da Cruz, Mandela, dan Kematian Tanpa Air Mata

Lopes Da Cruz (kiri) bertemu Mandela di Afsel, 17 tahun silam. Batiknya masih awet.

Lopes Da Cruz (kiri) bertemu Mandela di Afsel, 17 tahun silam. Batiknya masih awet.

Kompas Petang tadi, beruntung sekali bisa menghadirkan Fransisco Xavier Lopes Da Cruz. Dalam dialog bertema “Mengenang Nelson Mandela”, pria 71 tahun ini tampil istimewa. “Ini batik yang sama, saya pakai saat bertemu Mandela 17 tahun lalu,” kenangnya.

Lopes Da Cruz punya riwayat panjang di dunia diplomasi. “Mungkin saya salah seorang duta besar dengan masa jabatan terlama: 14 tahun,” kata mantan Wakil Gubernur Timor Timur itu. Pernah bertugas di New York, Jenewa, Austria, dan menjabat Dubes Keliling RI untuk negara-negara Afrika, Lopes mengakhiri karir diplomatiknya sebagai Duta Besar RI untuk Portugal.

Selain pernah bersua dengan “Madiba” –panggilan akrab Mandela di Pretoria, Afrika Selatan, Lopes berjasa besar memfasilitasi pertemuan antara Suharto, Mandela, dan Xanana Gusmao. “Saat itu, Xanana berstatus sebagai tahanan politik RI, dan dipenjara di Lapas Cipinang. Ia diizinkan khusus bertemu Mandela di Istana Negara,” kisah Lopes da Cruz, lulusan sekolah filsafat dan teologia di Makau, yang kini menghabiskan hari-harinya di rumah, kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Dalam dialog Kompas Petang itu, Lopes Da Cruz tampil berduet bersama Jaya Suprana, budayawan yang juga pendiri Museum Rekor Indonesia (MURI). Tentang kematian Mandela, Jaya menyorot tradisi unik masyarakat Afrika Selatan. “Mereka justru merayakan kematian dengan menari, menyanyi, dan berlompat-lompat. Itu artinya, mensyukuri kehidupan Mandela,” ungkapnya.

Ah, seandainya demikian yang terjadi pada diri kita. Tak usahlah orang menangisi kita, meratap, atau menabur bunga yang esoknya akan kering. Baiknya para pelayat itu menari, bertepuk-tangan, menyebut nama kita, atau menyanyikan lagu kesukaan kita. Bersyukur karena kita pernah hidup, dan memberi warna pada kehidupan ini. Bersyukur, bahwa kematian adalah pintu baru, menuju dunia tanpa air mata…

This entry was posted in inspiration/biography and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Lopes Da Cruz, Mandela, dan Kematian Tanpa Air Mata

  1. maulanadanny says:

    Madiba sosok tokoh perjuangan paling lengkap. Seperti setetes embun yang jatuh ke permukaan danau yang tenang, reaksi riaknya menjalar jauh dari pusatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s