Padang yang Terus Berkembang

Geliat kehidupan kota dari orang-orang yang “pandai berdagang” ini terus meningkat.

Berselancar di Mentawai, kenapa tidak? Sisi lain jualan Sumatera Barat.

Promosi wisata di gerbang Sumatera Barat. Dari Padang, membuka pintu ke destinasi lain.

Salamaik Datang di Padang. Kota ini jauh lebih bergairah dibanding saat saya kali pertama berkesempatan ke mari, beberapa hari usai gempa 2009. A-board elektronik mempromosikan Mentawai sebagai salah satu lokasi surfing terbaik di dunia, menyapa para penumpang pesawat yang baru mendarat di Bandara Internasional Minangkabau.

“Pembangunan di Padang berkembang amat pesat setelah gempa. Hotel dan lokasi hiburan baru macam karaoke banyak berdiri usai peristiwa itu,” kata Ocha, salah seorang aktivis lokal, yang menemani selama berada di sini.

Malam minggu kemarin, kelar acara Uji Kompetensi Jurnalis, perjalanan meninggalkan kampus Universitas Bung Hattaedikit tersendat di kawasan Juanda, seberang Hotel Pangeran Beach. Rupanya, tiga selebritas ibukota sedang manggung bareng di sana: Once Mekel, Sandhy Sondoro, dan Bunga Citra Lestari.

Padang memang terus berkembang. Di sepanjang jalan dari arah bandara ke kota, tampak shelter semacam halte Trans Jakarta. Tapi, belum juga proyek itu berjalan, ungkapan satir sudah muncul. “Jalan cuma segini, mau dibagi berapa lagi,” keluh Acang, mahasiswa yang menjemput saya di bandara.

Padang, pandai berdagang

Menu rumah makan Padang. Salah satu keahlian berdagang: industri kuliner.

Menu rumah makan Padang. Salah satu keahlian berdagang: industri kuliner.

Ini bukan joke SARA, tapi memang beberapa suku di Indonesia dianugerahi kekhasan, atau sisi khusus yang tak dimiliki saudara-saudaranya di belahan lain. Kalau Sunda disebut “suka dandan”, Betawi “betah di wilayah sendiri”, Jawa “jaga wibawa”, Batak “banyak taktik”, Aceh “ahli ngoceh”, maka kata Padang sering dianggap sebagai kependekan “pandai berdagang”. Bener gak? Anda kenal kawan dekat dari Padang yang sering mempromosikan beras, rendang, atau apa saja yang bisa didistribusikan darinya?

Kebangkitan Padang tampaknya tak pakai acara gamang. Selepas gempa empat tahun silam, dan ancaman terjadinya tsunami, pembangunan bergerak ke arah timur. Menjauhi bibir pantai. Saya mengetik tulisan ini dari Universitas Bung Hatta (UBH), yang persis berada di pesisir pantai Ulak Karang. Tapi, sedikit demi sedikit, ruang-ruang belajar UBH telah dipindah ke kampus baru di kawasan Air Pacah, Padang By Pass. yang dianggap lebih “aman”. Tinggal Fakultas Ilmu Budaya masih tertinggal di sini.

Investor terus berdatangan. Dengan segala pro-kontranya. Termasuk rumah sakit jaringan Lippo yang sedang dalam tahap pembangunan. Pun mall-mall baru seperti Padang Green City kepunyaan konglomerat Basrizal Koto.

Laju pertumbuhan Padang terus bergerak. Modal awal sudah ada sejak lama: Pelabuhan Teluk Bayur, Bandara Internasional Minangkabau, kampus-kampus pencetak intelektual, selain memang sifat “pandai dagang” tadi. Tinggal pe-ernya, semoga, para penduduk asalnya, tak hanya menjadi menjadi pemirsa…

This entry was posted in jalan-jalan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s