Surabaya: Kalah Cacak, Menang Cacak!

 Hari ini kota kelahiran saya berdirgahayu ke-720

Bonek, representasi karakter Arek Suroboyo. Apapun dilakukan, demi tujuan.

Bonek, representasi karakter Arek Suroboyo. Apapun dilakukan, demi tujuan.

Suatu malam, bermotor di kawasan Bundaran Satelit -dulu orang menyebutnya Ngesong, setengah berteriak, saya berucap, “Surabaya, suatu hari saya akan sangat merindukanmu!” Hari ini, kota kelahiran saya itu berulangtahun ke-720. Dari pojok sebuah bangku di Palmerah, Jakarta Barat, malam ini saya menyampaikan rasa kangen nan amat dalam pada Surabaya.

Surabaya adalah sebuah fenomena. Dari kisah heroik 10 November 1945, lahirlah sebuah lecutan semangat, bahwa kita tak boleh menyerah, meski secara segala-galanya kalah. Hanya bersenjatakan bambu runcing dan peralatan perang seadanya, Arek-arek Suroboyo membuat tentara aliansi -kita menyebutnya sekutu- terkencing-kencing. Sepekan sebelumnya, 30 Oktober, Brigadir Jenderal Aubertin Walter Southern Mallaby tewas dalam sebuah baku tembak.

Semangat modal nekat tapi hasil optimal itulah yang selanjutnya terwariskan pada Arek Surobyo generasi berikutnya. Di babak delapan besar Liga Indonesia 2005, saya pernah bertanya kepada seorang bonek yang hadir di Gelora Bung Karno tentang berapa uang di kantung jins bututnya. “Cuma Rp 30 ribu dari Surabaya ke Jakarta,” katanya.

Impossible is nothing

Taman Bungkul Surabaya. Kini lebih tertata, lebih asri.

Taman Bungkul Surabaya. Kini lebih tertata, lebih asri.

Di Jalan Basuki Rahmat, dulu orang menyebutnya Kaliasin, sebuah baliho mempromosikan halaman daerah Kompas Jatim bertuliskan kalimat, “Sejak dulu Sampai Sekarang, Arek Suroboyo Terkenal Pantang Menyerah.”
Mereka yang pada tubuhnya mengalir darah Surabaya, terkenal dengan semangat harus dapat, mendapatkan target yang telah ditekadkan. Ibaratnya, dirimu pun direlakan, asal apa yang dituju tercapai, “Tali duk tali layangan, nyowo situk ilang-ilangan.”

Bagi mereka yang mengaku berasal dari Surabaya, tak ada istilah menyerah sebelum mencoba. “Kalah cacak, menang cacak,” itu slogan yang berarti: menang kalah urusan nanti, yang penting, jangan tidak mencoba.

Surabaya, terimakasih telah mewariskan darah itu. Darah untuk tidak pernah menjadi inferior di manapun berada…

This entry was posted in inspiration/biography and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s