Tim Kelas Dua untuk Turnamen Kelas Dua

Tim sebesar Liverpool menganggap Liga Eropa bak kompetisi khusus pemain pengganti.

Mimpi apa Adam Morgan dan Conor Coady bisa terbang ke Rusia sebagai pemain tim utama Liverpool, dan juga menuai debut dalam pertandingan resmi? Ngidam apa pula Jon Flanagan kembali tampil menjaga lini belakang Liverpool, setelah pada partai pembuka Liga Inggris 2011/2012 dicerca sebagai biang kesalahan gagal menjaga keunggulan Liverpool atas Sunderland? Ada niat apa pula memainkan Joe Cole –yang dianggap mementaskan pertandingan terakhirnya berbaju The Reds di babak 16 besar Capital One Cup melawan Swansea? Permainan buruk Cole saat itu  menuai kritik pedas dari Brendan Rodgers dan kemudian agennya berujar mereka mendapat banyak tawaran bagi Cole dari klub Rusia dan Perancis.

Semua dagelan itu dapat disaksikan dalam pertandingan ke-4 Liverpool di Grup A Liga Eropa melawan Anzhi “Adakadabra” di Moskow Jum’at (9/11) dini hari tadi. Mengingatkan saya pada adegan di lapangan futsal kantor kemarin. Begitu kalah, seorang pemain berujar, “Kita kalah, karena kita tidak niat membentuk tim tangguh, tapi karena mengutamakan prinsip ‘yang penting semua berkesempatan main’.”

Di awal turnamen ini, yang tiketnya dibeli Kenny Dalglish dengan susah payah lewat adu penalti melawan tim divisi kampong, Cardiff City, Brendan Rodgers sempat pasang pernyataan serius. “Kami harus juara Liga Eropa, karena juara dari turnamen ini akan bertemu juara Liga Champions, dan pemenangnya menjadi tim terbaik Eropa.” Tapi, saat harus memilih prioritas antara Liga Eropa dan Liga Inggris, Rodgers nampak sekali ketegasannya. Pemain-pemain utama harus main untuk kompetisi Liga Inggris, sementara pemain cadangan, bolehlah menambah minute playing untuk Liga Eropa dan Piala Liga. Persis seperti para pemain futsal yang bertanding demi asas kesetaraan tadi.

Maka, pagi tadi, Liverpool mencatat sejarah: menjadi penampilan perdana sejak 1997, memainkan 9 pemain berkelahiran Inggris di pentas Eropa. Maklum, sebelum ini, Liverpool amat pro pada pemain asing non-Inggris, hingga bisa dihitung sebelah jarilah, siapa pemain berdarah British yang dimainkan sebagai starter. Melawan Anzhi Makhachakala di Lokomotiv Stadium, yang dua pekan sebelumnya dibungkam 1-0 di Anfield, Liverpool memainkan pria-pria Inggris: Jamie Carragher, Jon Flanagan, Joe Cole, Jordan Henderson, Stewart Downing, Jonjo Shelvey, Conor Coady, Adam Morgan, dan Andrew Wisdom. Hanya tersisa kiper Australia Brad Jones dan pemain muda terbaik Copa America 2011, Seba Coates. Satu-satunya gol tuan rumah tercipta dalam pertandingan ini, bola lop Lacina Traore di menit 45+2 babak pertama, hasil kelengahan trio Coates-Carra dan Jones.

Demi Chelsea

Joe Cole, eks pemain Chelsea yang berada di ujung karirnya di Liverpool. Ultah ke-31 berbuah keok.

Liverpool datang ke Moskow berbekal posisi pemuncak grup A dan pulang ke Inggris dengan kehilangan tiga poin. Beruntung,The Reds masih berada di posisi lolos, alias peringkat kedua, menyusul hasil buruk menimpa Udinese, tim yang justru pernah mempermalukan Liverpool di Anfield.

Rodgers punya alasan kuat saat membiarkan Steven Gerrard, Luis Suarez, Joe Allen, Raheem Sterling, Daniel Agger, dan Martin Skrtel hanya bermain PlayStation di Liverpool. Laga lanjutan Liga Inggris di kandang Chelsea menanti pada Minggu lusa. Tentu harapan terbaiknya, bisa meruntuhkan jembatan London seperti saat Glen Johnson mencetak gol kemenangan di menit-menit akhir musim lalu. Tapi, kalau toh tak bisa menang, yang penting tak menodai rekor Liverpool di Liga Inggris yang di lima partai terakhir tak pernah kalah.

November merupakan salah satu bulan terpadat Liverpool, 5 partai di Liga Inggris dan 2 di Liga Eropa. Dilanjut pada Desember, 6 pertandingan Liga Inggris, dan 1 di Liga Eropa. Rodgers tak salah kalau mesti pintar merotasi pemainnya, sembari membagi jatah bonus minute playing mereka. Menjadi soal kalau dampak gantian main ini benar-benar membuat perjalanan Liverpool di Liga Eropa kandas lebih awal, seperti terjadi di Capital One Cup. Sudah gagal mempertahankan juara Piala Liga, eh, masih juga gagal menang di Liga beneran, yang main empat hari sesudahnya.  Kecuali kalau memang niat Rodgers memainkan pemain bukan atas dasar siapa pemain terbaik yang berhak tampil, tapi dengan mempertimbangkan ‘momen istimewa’ anak-asuhnya. Seperti Joe Cole, yang saat berlaga lawan Anzhi tepat di hari ulangtahunnya ke-31.

This entry was posted in football evangelist and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s