Beratnya Tiga Poin Kedua

Gol pertama Liga Primer Raheem Sterling. Kepercayaan pemain belia. Foto: Liverpoolfc.com

Liverpool meraih kemenangan kedua pada pertandingan kedelapan.

Di mana, sedang apa, dan sudah meraih pencapaian apa Anda pada 1994? Saat itu, saya berusia 17 tahun, dan sedang berada di persimpangan untuk memilih jalan pendidikan tinggi.

Pada 18 tahun silam itulah, Raheem Shaquille Sterling lahir, di Kingston, ibukota Jamaika yang mungkin namanya lebih Anda kenal sebagai merek flashdisk. Pada usia 5 tahun, Raheem kecil berimigrasi ke Inggris, bersama ibunya, dan hidup di kawasan Wembley, London Barat.  Mulai umur 10 tahun, Sterling menyalurkan hobi bola sepaknya di Sekolah Sepak Boa Queen’s Park Rangers, hingga kemahirannya menggocek bola tercium negara leluhurnya, dan terpajang di halaman depan sebuah koran Jamaika.


Ialah Rafa Benitez, pelatih Liverpool asal Spanyol yang mengendus bakat Raheem dan memboyongnya ke Melwood pada usia 14 tahun, dengan nilai pembelian 600 ribu poundsterling. Meski begitu, kesempatan mencicip Liga Primer Inggris baru didapatnya dari pelatih Kenny Dalglish, yang memberi kesempatan Raheem sebagai pemain pengganti melawan Wigan Athletic pada 24 Maret 2012. Sisa 6 menit, Raheem masuk lapangan menggantikan Dirk Kuyt, namun gagal menolong Liverpool terhindar dari kekalahan di kandang. The Reds dipermalukan Wigan 1-2, tapi Raheem mencatat rekor tersendiri: debut Liga Primer pada usia 17 tahun 107 hari, menjadikannya salah satu debutan termuda di klub, terpaut 9 bulan dari sang pemegang rekor, Jack Robinson.

Raheem Sterling kian mendapatkan angin di musim 2012/2013. Pelatih Brendan Rodgers berpihak kepada pengembangan anak muda, terus menurunkan Sterling pada 7 dari 8 pertandingan awal Liga, minus laga pembuka melawan West Brom. “Ini adalah momen terbaik dalam hidupku, saat seluruh Anfield menyanyikan namaku,” kicau Raheem dalam akun twitternya @sterling31, usai penampilan Liga Inggris perdananya musim ini. Sayang, sial menerpa Liverpool karena hanya dapat berbagi angka 2-2 melawan sang petahana, Manchester City.

Sabtu, 20 Oktober 2012, menjadi momen yang lebih bersejarah lagi dalam hidup Raheem. Mendapat umpan cukilan dari Luis Suarez, si mungil bernomerpunggung 31 itu berlari kencang, sebelum melesakkan bola dengan kaki kanannya ke sudut gawang Alex McCarthy, kiper Reading. Skor 1-0 yang dibuat pada menit ke-29 itu tak berubah, mencatatkan kemenangan kedua Liverpool  dalam delapan pertandingan, sebuah musim yang terasa sangat lambat dan berat.

Memang bukan gol pertama Raheem, karena Agustus lalu ia juga mengukir gol pada laga pra-musim melawan Bayer Leverkusen, tapi gol di Liga Primer adalah gol yang nilai sejarahnya berlipat-lipat.

Krisis pemain

Raheem Sterling di antara ‘kakak-kakak’ nya. Banyak kesempatan bersama Rodgers. Foto: Liverpoolfc.com

Melawan sebuah klub promosi dan hanya menang 1-0 tentu bukan hasil menggembirakan bagi Liverpool, salah satu klub dengan sejarah besar di Inggris Raya. Tapi, Liverpool menghadapi laga ini dengan compang-camping. Istirahat dua pekan pasca laga antarnegara, kabar tak sedap mengiringi cedera penjaga gawang Jose Reina dan ujung tombak Fabio Borini. “Dengan klub berbeda, Borini selalu cedera dalam tiga Oktober terakhir. Mungkin, Oktober tahun depan,  kita kasih dia cuti saja,” seloroh Brendan Rodgers, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya mengetahui Borini patah kaki, saat latihan timnas U-21 Italia jelang menghadapi Swedia.

Nasib ‘Pepe’ Reina tak kalah unik. Selalu jadi bayang-bayang Iker Casillas di timnas Spanyol, otot Reina tertarik saat pemanasan sebagai pemain cadangan, pada kualifikasi Piala Dunia melawan Perancis. Sore itu, berdasi merah di atas tribun VVIP. Reina menyaksikan Brad Jones menggantikannya, yang langsung berbuah cleansheet pada debut sebagai starter Liga Inggris perdana Jones pada tiga tahun terakhir.

Perjalanan berat Liverpool belum selesai. Main 4 kali dalam 10 hari ke depan, dengan stok pemain terbatas dan kelelahan mendera, tentu bukan hal mudah. Tapi setidaknya, gol perdana anak kecil bernama Raheem Sterling mampu membuat tersenyum Liverpudlian, setelah mengalami start terburuk sejak 1903.

“Anak itu memiliki kecepatan luar biasa,” kata Rodgers seusai pertandingan. Rodgers tentu tak lupa, Raheem Sterling lahir di negara, yang menghasilkan dua manusia tercepat di bumi ini, Usain Bolt dan Yohan Blake.

This entry was posted in football evangelist and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s