Jojo Raharjo’s five-year plan

Hidupmu lima tahun yang akan datang dapat ditebak dari sekarang, dan hidupmu lima tahun silam, dapat dilihat dari saat ini.

Studio Radio CVC, Queensland, Australia, awal 2008. Kenangan hampir lima tahun silam.

Judul dan topik tulisan ini lahir begitu saja. Mendadak ingin menulis, tapi tak tahu apa tema besarnya. Tiba-tiba, saat me-refresh situs resmi Liverpool, terlihat sebuah judul menarik: Lucas Leiva’s five-year plan. Sebuah tulisan yang asyik, berdasarkan wawancara dengan Lucas Leiva, pemain kunci di lini tengah Liverpool yang tengah menepi karena kembali dilanda cedera.

“In five years I can see us achieving a lot of things. The last three or four years have been very difficult, it’s a difficult moment, but we’ll start to achieve. In five years, I just hope we can be winning the league and maybe the Champions League. Why not? We have to believe that,” begitu kata Lucas, pria 25 tahun asal Brasil itu.

Tak salah dengan ucapannya. Hidup adalah visi. Visi adalah iman. Dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Visi itu bagi seseorang adalah hal yang amat diyakini, tapi bagi orang lain bisa dianggap sebagai sebuah kegilaan, karena memandangnya sebagai sebuah obsesi berlebihan. Saking gila dan ngebetnya pengen pindah dan berkarir ke Jakarta, sembilan tahun lalu, saya membeli sebuah kartu pos bergambar Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, lalu menempelkannya di kamar saya, di sebuah rumah di kawasan Bratang, Surabaya Selatan. Kartu pos itu saya tempel beralaskan mainan panah-panahan, dart game, lalu setiap mau tidur, saya hujani dengan tikaman panah-panah kecil sampai penuh lubang. Unik, tapi ritual ini saya tempuh bahkan setelah gagal menjalani tes di, setidaknya, tiga media di Jakarta. Sebuah menjadi realita saat 10 Juni 2005 saya mengemas barang, berangkat bersama Lion Air jam 11 pagi untuk berpindah kehidupan ke ibukota.

Visi lima tahun

Studio Radio Salvatore Sonora Surabaya, 2001. Tanpa sejarah kita tak pernah ada di sini.

Saya percaya pada ungkapan, “Hidup kita lima tahun silam dapat dilihat dari bagaimana kondisi kita saat ini. Begitupula hidup kita lima tahun yang akan datang, dapat dilihat dari bagaimana kondisi kita saat ini.” It’s about consistency. Tentu bisa saja, ada kejadian dahsyat yang tiba-tiba mengubah kehidupan seseorang secara drastis, seperti seorang Norman Kamaru berpindah kuadran dan mendadak menjadi artis profesional hanya karena keisengannya berdendang ala India diunggah orang lain dan menjadi top hits di facebook.

Maka, kalau saja saya harus menuliskan, bagaimana keadaan saya pada lima tahun yang akan datang, 2017, dengan catatan Sang Kuasa masih mengizinkan kehidupan, beginilah kira-kira…

Dalam dunia pekerjaan, besar kemungkinan saya masih di sini: Kompas TV. Cukuplah perjalanan berpindah-pindah media sejak 1997. Tinggal percaya, lima tahun mendatang, kondisi perekonomian Indonesia, pertelevisian nasional, dan perusahaan tempat saya bernaung, akan semakin positif. Dalam posisi apa? Apa saja, yang pasti tentu lebih baik dari yang saat ini.

Studio Kompas TV, 2012. Visi tak terlihat namun pasti.

Dalam urusan keluarga, tentu saya menggambarkan berada dalam kondisi yang asyik. Tak mungkin tak ada konflik. Tapi, menyaksikan anak pertama hampir lulus SD, dan mengantarkan si kecil menjejak Taman Kanak-Kanak, akan menjadi hal yang indah pada 2017 nanti. Dalam hal materi? Tak ada target berlebih, karena bisa melewati hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, dengan berkecukupan, adalah juga sebuah mujizat. Ambisi memang perlu. Tapi dalam siklus masuk usia 40 tahun saat itu, ambisi akan kalah pamor dengan ucapan syukur.

Dalam kehidupan lain di luar kerja dan keluarga: organisasi, aktivitas mengajar, dan lain-lain, harapannya tentu semakin berkilap. Bukan urusan materi atau popularitas, tapi bagaimana sebuah hidup dapat menjadi berkat dan inspirasi bagi orang lain.

Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tak akan pernah hilang, lima tahun yang akan datang, semuanya akan semakin indah. Menjadi penuh syukur, dan tersenyum sembari berkata, “It was good.”

This entry was posted in inspiration/biography and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s