Minggu Palem dan Inkonsistensi Manusia

Salah satu rangkaian Perayaan Paskah yang membongkar hakikat manusia.

Yesus memasuki Yerusalem di Minggu Palem. From hero to zero.

Hari Minggu sebelum Paskah, Yesus masuk Yerusalem, dan gemparlah kota itu saat orang ramai mengelu-elukannya laksana panglima perang, “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!”

Tapi tak sampai sepekan kemudian, juga di kota yang sama, orang-orang itu menunjukkan inkonsistensi, sifat paling mudah ditemui dalam manusia. Saat itu Wali Negeri Pontius Pilatus menawari penduduk Yerusalem, siapa kriminal yang bakal mendapat grasi di Hari Paskah, Yesus Barabas, atau Yesus yang disebut Kristus? Gerakan rakyat memilih penjahat kelas kakap, Yesus Barabas, mendapat kebebasan, sementara Yesus satunya –yang sebelumnya mereka puja bak pahlawan- mendapat vonis eksekusi mati.

Kisah Minggu Palem yang mengawali rangkaian Minggu Suci perayaan Paskah menjadi introspeksi bagi kita semua. Seberapa jauh kita konsisten. Tak usahlah jauh-jauh soal iman, kepercayaan, atau religiusitas. Konsisten saja pada visi, panggilan hidup, profesi, pendamping hidup, komitmen berkeluarga. Atau mungkin juga bisa diawali dari klub sepakbola favorit Anda.

Mengapa sepakbola?

Kami merayakan Minggu Palem. Belajar dari inkonsistensi manusia.

Karena di olahragalah kita gampang melihat respon seseorang saat favoritnya tak memenuhi harapan. Dalam kasus terpuruknya Liverpool, yang sampai kalah tiga kali berturut-turut dari klub kelas menengah ke bawah, inkonsistensi manusia mudah sekali terbaca. Ketika kalah dari Queens Park Rangers dan Wigan Athletic, ada supporter berteriak, “Mainkan pemain muda. Yang senior tidak punya motivasi!” Ternyata, setelah di starter line-up melawan Newcastle United terdapat nama Jon Flanagan, dan akhirnya keok lagi, tudingan pun dialamatkan kepada bek kanan 19 tahun itu.

Begitupula yang mengambinghitamkan pelatih Kenny Dalglish. Saat Liverpool terpuruk di era Rafael Benitez dan Roy Hodgson, para penggila ‘The Reds’ berseru, “Bring  back, King Kenny!” Tapi kala Liverpool kalah sampai sebelas kali di penghujung musim 2011-2012, orang-orang yang sama itu pula yang berteriak, “Salibkan, King Kenny!”

Sepakbola memang bukan perlambang kehidupan. Tapi setidaknya banyak hal bisa dipelajari dari olahraga yang konon kali pertama dimainkan oleh orang Yunani Kuno dan Romawi itu. Jadi, berbahagialah mereka yang konsisten, dalam pengertian luas. Kalah menang, susah senang, tetap dalam visi asal? Very something. Sesuatu banget.

This entry was posted in football evangelist and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s