Washington DC: Hawa Dingin, Jetlag, dan Budaya Tip

Hari resmi pertama di DC, belajar macam-macam adaptasi.

Nama resmi peserta. Delegasi yang kedinginan.

Nama resmi peserta. Delegasi yang kedinginan.

Setelah Sabtu baru masuk hotel malam hari dan Minggu diisi acara jalan-jalan ‘Washington DC City Tour’, Senin (5/3) inilah acara sebenarnya International Visitor Leadership Program (IVLP) 2012 bertema Peliputan Pemilu di Era New Media dimulai. Mengecek internet, awal pekan ini suhu berkisar 1 koma sekian derajat Celcius.

Alan Chen, kolega peserta IVLP dari Taiwan kaget saat melihat tampilan saya pagi itu. “Benar kamu gak kedinginan, Jo?” tanyanya. Busyet, padahal Anda tahu, berapa lapis pakaian atas saya? Pertama kaus singlet, lalu kedua dilapis longjohn. Longjohn sebenarnya juga dalaman, tapi lebih sebagai kaus pelapis berlengan panjang, saya beli di Jakarta City Centre Tanah Abang sepekan sebelum berangkat. Di musim dingin, beberapa pemain Liga Inggris, Glenn Johnson dari Liverpool misalnya, sering memakai longjohn yang selaras dengan warna jersey klub. Di luar longjohn, saya memakai kemeja resmi lengan panjang dan masih dibalut jas.

Komposisi begitu ternyata belum cukup. Kolega saya, dan juga pejalan kaki yang melintas di sini, melengkapi diri dengan jaket tebal, beberapa di antaranya seperti jas tapi panjangnya sampai di bawah pantat. “Ntar kalau ke Utah, kamu harus beli jaket lagi, Jo. Di sana lebih dingin, karena memang Salt Lake City letaknya lebih tinggi,” kata Alan, mengingatkan tentang jadwal kami ke negara bagian lain pada 15 Maret mendatang.

Syukurlah, aktivitas hari ini banyakan di dalam gedung bertingkat, yang otomatis memiliki pemanas ruangan. Hawa menusuk kembali terasa saat mencari makan siang ke toko roti terdekat, yang membuat saya menyiapkan tiga senjata andalan: syal dicekikkan di leher, topi gunung serta sarung tangan.

Selain suhu udara, masalah lain di hari-hari awal di Amerika Serikat tentu soal jetlag. Dengan beda waktu 12 jam mundur ke belakang Jakarta, raga ini butuh waktu penyesuaian. Dua hari terakhir saya masih terbangun pada dinihari, kisaran pukul dua atau tiga subuh. Mau tidur lagi? Susah, apalagi pagi ini sudah merem sekitar 10 jam sejak sore kemarin. Sebenarnya resep mengatasi jetlag sederhana: tahanlah diri untuk tidak tidur sebelum tengah malam, alias sesuaikanlah waktu melek dan bobok sesuai waktu lokal.

Tip Culture

Pakaian resmi akhir musim dingin saya. Empat lapis masih kurang.

Kondisi lain yang unik di AS adalah budaya tip. Sejak di Kedutaan Besar di Jakarta saya sudah mendapat briefing tentang hal ini. Di Washington DC, hari pertama perkenalan program tadi pun ditekankan hal yang sama. Jangan segan-segan memberi tip atau gratuity atau persenan, karena dari situlah para pekerja rendahan di sini hidup. Maklum, gaji mereka amat kecil. “Nah, kalau Anda bertanya apakah sebaiknya gaji ditingkatkan dan budaya tip dikurangi, itu sulit menjawabnya,” demikian petuah yang saya terima dalam penyambutan kedatangan di lembaga penyelenggara IVLP di pagi tadi.

Jadi, setiap orang disarankan memberikan tip, dalam keadaan memang ia dilayani. Misalnya, menyelipkan tip di bawah bantal kamar hotel setiap akan pergi pagi hari, karena siangnya kamar kita pasti akan dibersihkan oleh housekeeper. Besarannya terserah, mau 1 atau 2 dolar, namanya juga amalan. Juga kepada sopir taxi dan pelayan restoran. “Besaran tip di rumah makan sekitar 15-20 persen dari bill yang harus dibayarkan,” begitu penjelasannya. Tapi, meski setiap pagi saya sarapan gratis di hotel, tetap disarankan menyelipkan tip di meja restoran usai menyantap breakfast. Tip biasanya tidak berlaku jika kita makan dalam kondisi tidak dilayani alias self service, misalnya di McDonald atau resto cepat saji lain di mana makanan tidak diantar pelayan ke tempat kita duduk.

Well, mari kita beradaptasi. Dengan biaya makan cukup besar di sini, saya memang dituntut berhemat dan pintar-pintar mengatur pengeluaran. Tapi, saya kira berbagi dan memberi tip tidak akan membuat kita jatuh miskin kan?

Salam Selasa pagi dari kamar Hotel River Inn, Washington DC.

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Washington DC: Hawa Dingin, Jetlag, dan Budaya Tip

  1. kakakakakaka,.. senang mengikuti kisahmu. Btw, kalau pakai jas, boleh juga,..🙂

  2. Heda Bailey says:

    Manstab Mas Jo ..jaga stamina ya🙂

  3. Pingback: Saya 17 Jam di Belakang Anda | Jojo's Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s