Nonton Bola di Brisbane

Catatan nonton bola di salah satu stadion di Australia. Dimuat di rubrik Perjalanan Koran Tempo Minggu, 11 Februari 2007.

Suncorp Stadium Brisbane. Siang panas, pertandingan dimainkan malam hari.

Sepakbola bukan olahraga utama di negeri dengan 20 juta penduduk ini. Namun, Guiness World Records masih mencatat pertandingan Australia melawan Samoa sebagai partai dengan rekor skor gol tertinggi. Dalam penyisihan Piala Dunia 2002 di Coffs Harbour, 11 April 2001, Australia menggilas Samoa 31-0. Dalam laga itu, penyerang Australia, Archie Thompson, mencatat rekor dunia pencetak gol terbanyak dalam sebuah pertandingan dengan 13 gol.

Maka saya  tak berpikir panjang lagi begitu mendapat tawaran menyaksikan A-League, begitu nama Liga Sepak Bola Australia yang musim ini disponsori perusahaan mobil asal Korea itu. Soccer, sebutan untuk membedakannya dengan Australian Football League (AFL), memang kalah pamor dibandingkan dengan kriket, rugbi, dan AFL. Namun, atmosfer menonton sepakbola di Suncorp Stadium, Brisbane, bak menghadirkan suasana stadion besar di Eropa.

Sabtu itu, berlangsung pertandingan antara tuan rumah Queensland Roar FC dan Sydney FC. Pertarungan digelar mulai pukul tujuh malam, dengan alasan sederhana: kalau siang cuaca Kota Brisbane pada Januari sangat panas, nyaris mencapai 30 derajat Celcius. “Selain itu, toh stadion ini dilengkapi penerangan yang memadai,” kata Scott Curtis, teman sekantor yang juga gila bola.

Serunya laga sudah tergambar sejak siang hari. Di downtown Brisbane, lalu-lalang supporter berseragam jingga melintas penuh semangat, bersiap menonton sepakbola laksana rekreasi keluarga. Nongkrong di sebuah restoran cepat saji, tampak juga pendukung Sydney FC bertetirah sejenak setelah menempuh perjalanan dengan pesawat. Tak ada keributan, meski mereka jelas-jelas memakai seragam biru laut memasuki kandang singa.

Keramaian di downtown

Bersama polisi di tengah kota Brisbane. Tak ada kerusuhan usai pertandingan bola.

Pukul enam petang lewat, antrean penumpang di Queen Street kian panjang. Memang, setiap ada event besar seperti pertandingan olahraga ini, otoritas kota Brisbane menyediakan shuttle bus gratis dari pusat kota menuju stadion dan sebaliknya. Ah, pikiran nakal kembali melayang ke kampung halaman. Seandainya layanan publik serupa tersedia, tentu para Bonek atau Jakmania tak perlu repot-repot membajak truk dan metro mini.

Di dalam stadion, dua monitor raksasa mengumumkan Suncorp Stadium dihadiri 32.371 penonton. Meski tiket pertandingan seharga Aus$ 25 (sekitar Rp 175 ribu) mencantumkan detail lokasi tempat duduk –sisi stadion, lorong, baris dan nomor kursi- layaknya menonton bioskop, saya memilih berbaur dengan kelompok suporter di belakang gawang. Inilah lokasi para suporter kreatif berada, menyanyikan tel serta menggetar-getarkan tangan seperti dukun merapal mantra setiap kali tim kesayangan melakukan serangan.

Tak lupa, sebuah gelas plastik berisi bir ringan menemani sepanjang pertandingan.
Pertandingan usai mendekati pukul sembilan malam, dengan skor imbang yang memuluskan langkah tim tamu menuju babak playoff. Ribuan Queenslanders berjalan gontai, kontras dengan pendukung Sydney FC yang bernyanyi riang sampai di kawasan City Hall dan Central Station Brisbane, melahap malam sambil menunggu penerbangan pagi keesokan harinya.

Saya masih mengucek mata, benarkah tak ada kerusuhan di antara kelompok pendukung bola, dengan kekecewaan besar ada di kubu tuan rumah? Ah, tiba-tiba batin saya berbisik, “This is Australia, Man!”

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s