Berkunjung ke Rumah Buaya

Catatan singgah ke Australia Zoo, surga satwa peninggalan Steve Irwin. Dimuat di rubrik Perjalanan Koran Tempo Minggu, 11 Februari 2007.

Memberi makan gajah Sumatera. Australia Zoo, ikon wisata Aussie.

“Kalau sudah ke Queensland,  jangan lupa ke Australia Zoo.” Ungkapan itu bukan melebih-lebihkan, karena Australia Zoo inilah salah satu ikon wisata di Aussie. Lokasi tepatnya di Beerwah, 10 kilometer dari sisi barat Bruce Highway, yang menghubungkan Brisbane dengan Sunshine Coast.

Pagi itu, sebuah bus tingkat berwarna biru menjemput para pengunjung Australia Zoo dari kawasan Maroochydoore. Baru saja duduk, datang sapaan dari Steve Irwin, pemilik Australia Zoo yang terkenal dengan julukan’Pemburu Buaya’. Tentu bukan dalam wujud aslinya karena sosok itu sebenarnya sudah meninggal tersengat ikan pari pada September 2005.

Dalam televisi 17 inci, Irwin hadir selama perjalanan bus satu setengah jam lewat film dokumenter yang mengisahkan bagaimana perjuangannya menaklukkan aneka satwa langka. Episode kali ini mengetengahkan petualangannya di pedalaman Papua. “Apakah kuskus makan pisang?” tanya Irwin dalam bahasa Indonesia terpatah-patah kepada seorang penduduk Suku Komoro. Tak lama, bus berhenti, kami tiba di Aussie Zoo.

Kebun biatang ini awalnya didirikan pada 1970 oleh Bob dan Lyn Irwin, orangtua Steve, yang merupakan pakar reptil dan hewan amfibi. Berganti nama tiga kali, Australia Zoo kini memiliki luas lebih dari 28 ribu hektar dengan seribu koleksi satwa dan 600 karyawan. Tentu saja, yang ingin saya sentuh adalah kanguru merah dan koala, dua hewan khas Australia.

Crocoseum

Buaya, maskot Australia Zoo. Tercipta istilah "crikey" sebagai bahasa slang.

Dengan tiket masuk Aus$ 46 (sekitar 315 ribu), para pengunjung dapat menikmati semua atraksi fauna sepuasnya. Diawali dari memberi makan gajah, berputar-putar dengan kereta kelinci, hingga menyaksikan pertunjukan empat macan Asia di “Tiger Temple”, sebuah lokasi penangkaran harimau yang bangunannya dibuat sebagai replika  Candi Angkor Wat di Kamboja.

Atraksi utama di Australia Zoo adalah Wildlife Action, yang digelar dua kali sehari. Acara ini bertempat di Crocoseum, stadion mini dengan kapasitas 5.000 orang plus arena pertunjukan berbentuk kubus di tengahnya. Di Crocoseum yang dilengkapi layar lebar inilah pawing-pawang Australia Zoo bercanda dengan satwa buas, mulai ular piton sampai buaya berukuran babon. Ala gladiator, menegangkan, tapi juga mengasyikkan!

Setiap kali tangan sang pawang terjulur memberi makan buaya dengan unggas, jantung pengunjung Crocoseum berdetak kencang, jangan-jangan jemari mereka ikut tersabet moncong buaya yang menyambar sarapannya begitu cepat. Syukurlah, sampai atraksi tuntas, tak ada darah manusia yang mengucur. Semua berteriak gembira melontarkan ungkapan khas ciptaan Steve Irwin, sang penakluk buaya, “Crikey!”

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s