Terkesan di Australia: Apa yang Kau Tanam, Itu yang Kau Tuai

Coretan kenangan lima tahun silam, tentang kontradiksi penduduk Aussie.

Mengenang Steve Irwin di Aussie Zoo. Penyayang binatang tersengat pari.

Masih cerita tentang hari pertama saya menjejak Aussie, Rabu, 27 Desember 2006 petang, waktu Queensland. Sejam lebih perjalanan menyusuri jalan tol juga melewati Australia Zoo di kawasan Beerwah. Kebun Binatang itu milik Steve Irwin, pemburu buaya yang meninggal dunia dalam usia 44 tahun lalu akibat tersengat ikan pari pada awal September 2005.

Maka, tibalah kemudian kami di Maroochydore, salah satu distrik di Sunshine Coast. Hamparan Lautan Pasifik terbentang di wilayah yang kali pertama ditatap James Cook dari dek kapal HM Bark Endeavour pada 1770 itu. Saya beruntung mendapatkan kamar eksklusif di apartemen M-1, dengan pemandangan langsung ke arah jalanan, sungai, dan Cotton Tree, nama sebuah taman nan asri di jantung Maroochydore.

Esoknya, dalam perjalanan kembali dari kantor CVC di Killick Street, Kunda Park, Queensland, saya mencoba menggali ilmu dari Joe Handoko, senior broadcaster yang bergabung dengan CVC sejak 2002. Sudah lebih dari 13 tahun Joe tinggal di Aussie, usai lulus SMA di Pontianak pada 1993.

Sambil memegang kemudi mobil sedan Honda Odyssey-nya, Joe berpandangan, örang Australia punya kelebihan dengan sifatnya yang terang-terangan. “Apa yang diucapkan, ya itulah yang ada di hatinya. Bukan seperti kebanyakan orang Timur yang kebanyakan masih suka sungkan-sungkan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya yang menjadi maksudnya.”

Kurang care pada manula

Pengamen beratraksi tanpa memaksa. Mengetuk rasa care dan caring.

Selain punya kelebihan, ada satu sifat orang Australia yang berpotensi menjadi kelemahan. Mereka rata-rata dikenal kurang care terhadap keluarganya, utamanya pada orangtua. Tak heran masih kerap ditemukan orang tua seumuran 60 – 70 tahun menyetir mobil atau bekerja keras sendirian. Kalau benar-benar dianggap ringkih, barulah mereka akan dimasukkan sang anak ke Panti Jompo.

Sikap “menelantarkan” orang tua itu ternyata bukannya tanpa sebab. Di Oz, orang tua cenderung mendepak anaknya untuk menjadi mandiri maksimal pada usia 18 tahun. Bagaimanapun caranya, bila si anak sudah memasuki umur 18 tahun, sebisa mungkin ia harus angkat kaki dari rumah. Wah kejam, sekaligus mendidik.Tapi, ingatlah, apa yang kau tanam, itulah juga yang akan kau tuai dalam kehidupan.

Jadi, di Australia, jangan bayangkan seorang anak akan terus berada dalam zona kenyamanan seumur hidupnya. Beda dengan sebuah negara, yang sampai menikahpun tetap “menghalalkan” berkumpulnya orang tua dan keluarga baru sang anak itu. Mangan ora mangan sing penting kumpul. Di negara mana itu? Hmmmmm…..

Mereka juga penuh disiplin dan memiliki tingkat kesadaran tinggi. Bayangkan, sebuah mobil tiba-tiba berhenti dengan jarak sekitar 2 meter dari bibir zebra cross, begitu mengetahui beberapa orang akan menyeberang jalan di depannya. Benar-benar kehormatan tinggi bagi pejalan kaki!

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s