Beribadah Minggu di GKI Netherland

Catatan kenangan dua tahun silam, kenangan bergereja di Amstelveen

Suasana kotbah di GKIN. Ada teks bahasa Belanda.

Pekan kedua Mei 2010, saya berkesempatan beribadah di Gereja Kristen Indonesia Nederland (GKIN) Amsterdam. Gereja ini terletak di Amstelveen, kawasan pemukiman di pinggir kota Amsterdam. Selain di sini, GKIN ada di tujuh lokasi lain di Belanda, yakni di Schiedam, Dordrecht, Rijswijk, Den Haag, Arnhem, Nijmegen dan Tilburg.

Menuju GKI Amsterdam, dari Stasiun Central, saya beralih ke bis dalam kota nomer 170, ongkosnya 2 euro. Bis ini bertujuan akhir ke Uithoorn, tapi saya turun di halte Dijk Gravenlaan di kawasan Amstelveen. Hanya berjalan 100 meter, sampailah saya di sebuah gedung gereja “Pauluskerk”. Ibadah Minggu dimulai pukul 14.00 waktu Amsterdam dan siang itu dihadiri sekitar 90 orang.

Pelayan firmannya Pdt Ronny Setyamukti, membawakan kotbah bertema “Jangan Takut Hidup” berlandaskan Yohanes 5:1-9, kisah penyembuhan di kolam Betesda. “Ketakutan selalu muncul dalam hidup, baik karena sakit, karir, dan berbagai masalah lain. Kita harus percaya, Tuhan yang menyertai kita lebih besar daripada semua persoalan manusia,” tegasnya. Ronny berkotbah dalam Bahasa Indonesia, tapi di layar samping kirinya terpajang terjemahan dalam Bahasa Belanda.

Ronny Setyamukti sehari-hari menjadi gembala sidang di GKI Muara Karang, Jakarta Utara. “Saya hanya menjadi pelayan tamu di sini, di sela-sela waktu saya mengambil sabbatical leave,” kata pendeta yang saat kuliah di Belanda menjadi salah satu perintis berdirinya GKI Nederland itu.

Dilayani dua pendeta

Anak-anak memuji Tuhan. Gedung gereja masih nyewa.

GKIN tergabung dalam Protestantse Kerk in Nederland (PKN, semacam PGI yang menjadi denominasi gereja protestan terbesar di Belanda). Tahun ini, GKIN tepat berusia seperempat abad, dihitung sejak didewasakan sebagai gereja di negeri Belanda pada 7 Juli 1985. Resminya GKIN digembalakan dua orang pendeta yakni Pdt. Johanes Limandi dan Stanley Tjahyadi, keduanya berasal dari Gereja Kristus, Jakarta. Mereka dijadwal berkotbah ke delapan gereja itu. “Karena masih kurang, kami kerap mengundang pendeta Belanda yang bisa berkotbah dalam Bahasa Indonesia, atau pendeta Indonesia yang sedang berada di Belanda,” kata Frans Lo, 70 tahun, sesepuh GKIN Amsterdam.

Frans Lo yang pernah 13 tahun menjabat Sekretaris Umum GKIN Amsterdam menjelaskan, untuk sekali kebaktian mereka harus mengeluarkan biaya sewa 300 euro. Karena itu waktu ibadahnya juga berada di jam nanggung, karena pada pagi dan sorenya gereja dipakai sang empunya gedung. “Kami sedang berusaha memiliki gedung sendiri, seperti yang sudah diwujudkan jemaat GKIN Tilburg,” paparnya.

Ciri-ciri aliran agama Protestan ini tampak dalam kotbah, katekisasi dan struktur gereja GKIN. Di samping itu GKIN membuka pintunya untuk orang-orang beriman dari denominasi lain yang datang beribadah di sini atau yang ingin menggabungkan diri. Ini tampak jelas antara lain dari perayaan Perjamuan Suci dan keanggotaan GKIN itu sendiri.

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Beribadah Minggu di GKI Netherland

  1. Pingback: Catatan Awal Tahun 2012 | Berlin Sianipar | Jogja

  2. Naomi says:

    Browsing cari gereja Indo di Amsterdam, eh, nyangkut di blognya Mas Jojo😀 jika Tuhan mengizinkan, Juli nanti aku ke Amsterdam. Aku mau ibadah di GKIN ah😀 Terima kasih buat petunjuknya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s