Queen’s Day, it’s time to partij en feestje!

Catatan kenangan dua tahun silam, menikmati tradisi pesta Hari Ratu.

Pesta boleh, bentrok jangan. Mangga mas, diunjuk alkoholipun...

Setiap negara punya satu hari besar yang dirayakan dengan pesta besar. Saya beruntung, dalam kesempatan tiga pekan mencecap udara negeri tulip, termasuk di antaranya melintasi hari kalender 30 April, yang di Belanda dikenal sebagai Koninginnedag alias Queen’s Day alias Hari Ratu.

Queen’s Day adalah sebuah pesta besar. Sepanjang hari penuh di hampir seantero negeri, rakyat berjoget dalam panggung terbuka dan membuka lapak dagangan menjajakan barang bekas mereka. Semalam sebelumnya, hura-hura bertitel Queen’s Night sudah dimulai, tentu semuanya diwarnai bir dan lautan oranye, warna kebesaran kerajaan Holland.

“Selamat merayakan hari ulangtahun bekas ratu kalian,” teriak Sirtjo Koolhof, Head Indonesia Service Radio Nederland Wereldomroep di halte bis Media Park tempat kami meninggalkan area kursus di Radio Nederland Training Centre. Bersama beberapa kawan senasib, saya merayakan Queen’s Night di Utrecht, sebagai kota yang lebih besar dari Bussum, tempat tinggal kami. Naik kereta api tak sampai 30 menit, kemeriahan sudah menyambut di Utrecht Centraal Station, hingga ke sisi Sungai Rhine, sungai terpanjang dan terpenting di Eropa yang menjadikan letak Utrecht sangat strategis dari sisi ekonomi.

Nyanyi, goyang, bir

Kostum apapun yang penting oranye. Hidup Persija, Hup Holland Hup.

Akan halnya pada Hari “H” 30 April, saya merayakan Queen’s Night di Centrum Bussum, pusat keramaian dari kota kecil berpenduduk 30 ribu jiwa ini. Cukup berbekal kaos dan slayer jingga Jakmania yang sengaja saya bawa dari tanah air. Tak disangka, kemeriahannya juga luar biasa. Dua panggung besar terus-menerus memutar musik rancak, mulai lagu Belanda sampai irama Latino. Ratusan lapak berdagang barang anyar maupun seken memeriahkan acara. Saya sendiri cuma keluar 2 euro untuk 2 mainan, oleh-oleh khusus bagi Einzel. Mainan itu awalnya milik Muhamad, bocah 10 tahun yang menjaga stan dagangannya bersama sang ibu, Nadiha. “Kami sudah tinggal 7 tahun di Bussum sini,” kata Nadiha, imigran asal Irak.

Pesta besar berlangsung aman, meski jogetannya meriah sekali. Tenda penjual Bir Amstel maupun Heinekan dari harga 2 euro per satu gelas plastik pun laris manis. Di sekeliling partiers, petugas keamanan berbaju hitam bertuliskan “Protection Forces” terus berjaga.

“Everybody needs somebody, everybody needs somebody to love,” lagu rancak milik The Blues Brothers, band asal Amerika yang digawangi duo komedian Dan Aykroyd and John Belushi, mengiringi goyangan bersemangat para oranyers penggenggam bir itu.

Memang, satu hal harus diingat, inilah salah satu warisan budaya yang coba diwariskan Belanda kepada kita juga, tradisi luhur untuk partij en feestje, pesta dan pesta terus…

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s