“Sepakbola adalah agama saya…”

Di Inggris sudah biasa orang mengakui “football” sebagai agama mereka

Mengunjungi Stadion Arena, markas Ajax Amsterdam. Salah satu kiblat sepakbola Eropa.

Rasanya tidak ada hal lain, di luar agama, yang mampu menyatukan sekelompok manusia dibandingkan fanatisme terhadap tim sepakbola. Itulah yang kita lihat dalam gemerlap pesta bola di Afrika Selatan sepanjang 11 Juni hingga 11 Juli ini.

Sepakbola memang bak punya kuasa magis untuk menimbulkan passion alias gairah tersendiri. Bill Shankly, salah seorang manajer tersukses di Liga Inggris, pernah berkata, “Some people think football is a matter of life and death. I assure you, it’s much more serious than that.”


Untuk menunjukkan kegilaan fanatisme sepakbola di tingkat lokal saya tak akan pernah melupakan sebuah pengalaman kecut nan traumatik di kawasan tempat saya kontrak rumah.

Saat berjalan kaki kembali masuk ke dalam gang menuju rumah, setelah mengantarkan seorang sahabat mencari taksi, seorang pemuda memepetku ke tembok gang.“Hei, kamu tinggal di mana-mana?” ia bertanya.

Sekejap, pikiran cepatku bekerja: ini pasti gara-gara badanku memakai kaos hijau dengan tulisan Bonek, kelompok suporter garis keras pendukung Persebaya. Analisa yang tak meleset karena sekilas mataku melirik, pemuda itu memakai kaos putih bertuliskan Jakmania. Maka, skenario terburuk pun melintas dalam angan, “Siap-siap gembuk…”

Maklum saja, daerah Pondok Pinang –- yang hanya berjarak 2 kilometeran dari Stadion Lebak Bulus — adalah salah satu wilayah di Jakarta yang menjadi basis pendukung fanatik The Jak alias Persija. Pemuda ceking itu membentak, berteriak, sambil menunjuk-nunjuk muka, “Gua di Surabaya dihancurin ama bonek.”

Walah, saya semakin tersudut, meski sudah kujelaskan, saya bukan orang baru di kampung itu. Sudah pula kujelaskan, saya ini wartawan yang hobi mengoleksi kaos supporter klub-klub sepakbola seantero nusantrara. Apa daya, pemuda itu tetap tidak terima, memaksaku melepas kaos Bonek. Oke, tanpa perlawanan, kuturuti.

Seorang bapak mencoba mengamankan situasi. “Mas, kalau di sini jangan pakai kaos itu. Ini daerahnya Persija,” katanya, setelah menyaksikan diriku bertelanjang dada. Namun, belum puas menyaksikanku setengah bugil, pemuda tadi merampas kaos Bonek yang kugenggam. Kaos seharga 30 ribu perak yang kubeli saat menyaksikan Putaran Final Liga Indonesia XI di Senayan tahun lalu.

Itulah contoh kegilaan sepakbola di Indonesia. Sebuah negara yang tak terdaftar dalam peta kekuatan sepakbola dunia, kecuali pernah masuk putaran final Piala Dunia 1938 di Italia saat bernama Hindia Belanda. Saat itu, tim bernama resmi “Dutch East Indies” ini hanya bisa sekali main terus angkat koper karena dicukur 0-6 oleh Hungaria.

Nah, wajar saja toh kalau sekarang begitu banyak penggemar bola dari berbagai negara yang lolos ke Afsel rela berbuat gila demi mendukung negaranya. Seorang warga Belanda bahkan telah tiba di Johannesburg sejak April lalu, menggunakan kendaraan pribadi dan berkemah demi mendukung tim oranye dengan biaya murah.

Melebihi agama?

Saya menemukan sebuah akun facebook bernama “football is my religion and st andrews is my church”. Untuk diketahui, St. Andrews adalah nama stadion yang menjadi markas klub Birmigham FC. Itu hanya sebuah contoh kegilaan orang Inggris terhadap sepakbola.

Sebagaimana ditulis situs bolapedia, buah merek bir terkemuka merilis penelitian bahwa mayoritas orang Inggris meluangkan lebih banyak waktu untuk menyaksikan pertandingan, membaca ulasan media, dan berdiskusi membahas hal-hal yang menyangkut sepakbola dalam obrolan keseharian. Untuk menyaksikan pertandingan di televisi sajamereka menghabiskan dua jam dan 22 menit setiap minggunya.

Orang Inggris juga sedikitnya menghabiskan 28 menit per pekan untuk mendiskusikan hasil pertandingan, gosip transfer, gol dan aksi lainnya di lapangan. Total, penduduk Inggris menghabiskan 11 jam dan 12 menit setiap minggunya untuk sepakbola!

Yang menarik, urutan kedua ditempati Thailand. Penduduk “Negeri Gajah Putih” lebih gila bola ketimbang Brasil yang disebut-sebut sepakbola merupakan “agama kedua”. Sekitar tiga jam sehari orang Thailand betah berbincang-bincang tentang sepakbola. Nah, Brasil yang lima kali  menjuarai Piala Dunia menempati urutan ketiga.

Itulah, sepakbola menjadi bukan hanya kegemaran, tapi juga bisnis, dan lebih dari itu semacam agama dan gereja tersendiri. Sebagaimana pisau, ia bisa positif, bisa juga menyatukan. Bisa mempersatukan bangsa, bisa juga menimbulkan konflik besar dari tingkat negara, daerah hingga keluarga. Maka, marilah kita bijaksana memperlakukan setiap kegemaran dan juga hobi-hobi lainnya agar sisi positif yang diambil, dan bukannya malah jadi berhala baru.
Box :

Berikut urutan negara penggila bola berdasarkan waktu yang dihabiskan selama sepekan: *(hasil studi Heineken)
1. Inggris – 11 jam dan 12 menit

2. Thailand – 9 jam dan 56 menit

3. Brasil – 9 jam dan 53 menit

4. Irlandia – 9 jam dan 29 menit

5. Meksiko – 9 jam dan 1 menit

6. Spanyol – 8 jam dan 38 menit

7. Italia – 8 jam dan 27 menit

8. Cina – 8 jam dan 21 menit

9. Skotlandia – 8 jam dan 6 menit

10. Afrika Selatan – 8 jam dan 5 menit

11. Jerman – 8 jam dan 4 menit

12. Wales – 7 jam dan 46 menit

13. Prancis – 7 jam dan 23 menit

14. Rusia – 7 jam dan 13 menit

15. Belanda – 6 jam dan 4 menit

*) Jojo Raharjo, penikmat bola, tinggal di Tangerang

Tulisan ini dimuat di Tabloid Keluarga, Agustus 2010

This entry was posted in sport and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s