Menguji skripsi, memainkan teori dan empati

Diuji dan menguji skripsi. apa bedanya?

Kampus Fisip Unair, Dharmawangsa, 23 Juli 2002, tak lama setelah Final Piala Dunia di Jepang-Korea, saya seperti menjadi pesakitan saat duduk di kursi sidang skripsi. Tujuh tahun perjalanan saya sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga dipertaruhkan dalam waktu tak sampai 90 menit. Waktu yang sama yang dibutuhkan Ronaldo Luís Nazário de Lima untuk mengklaim gelar juara Piala Dunia kelima Brasil, dengan membungkam Jerman 2-0 di final, beberapa pekan sebelumnya di International Stadium Yokohama.

Beda dengan Ronaldo, Cafu, dan kawan-kawan, saya harus berjuang keras mempertahankan skripsi saya, mengulas tentang surat kabar berbahasa Tionghoa sebagai fungsi sosial dan identitas warga keturunan Tionghoa di Jawa Timur. Syukurlah, akhirnya saya bisa menegakkan kepala keluar dari ruangan itu. Meski kemudian tak bisa langsung diwisuda, sampai menunggu tahun berganti. Setelah menyelesaikan satu mata kuliah wajib yang tertunda, baru pada 19 Maret 2003 saya berhak menyandang gelar Sarjana Sosial, melalui sebuah prosesi wisuda di Kampus C Unair, kawasan Mulyorejo, Surabaya Timur.

Kampus Fisipol Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang, 25 Agustus 2010, tak lama setelah Final Piala Dunia di Afrika Selatan, saya seperti mendapat kehormatan tersendiri saat duduk menjadi dosen pembimbing sekaligus dosen penguji di kursi sidang skripsi. Siang tadi, sekitar 90 menit juga, seorang mahasiswa bernama Nicholas Nelson mempertaruhkan lima tahun masa studinya lewat skripsi berjudul “Efektivitas kinerja tim produksi radio dakam menyajikan program acara hiburan”. Karena saya tiga tahun terakhir menjadi pengajar mata kuliah radio di UKI, maka saya ditunjuk untuk menjadi pembimbing -sekaligus penguji- skripsi Nicho.

Apa kesan menjadi penguji skripsi untuk kali pertama? Rasanya, seperti menyaksikan pesakitan tergelepar, layaknya petinju kelas kampung yang dihajar tiga orang Chris John sekaligus. Di sinilah seni menyayat-nyayat pisau itu harus dimainkan dengan apik. Di satu ujungnya membongkar teori-teori akademik yang dipaparkan sang mahasiswa teruji. Namun, di ujung lain, perasaan empati tak boleh lupa terpatri. Seperti ada kaca di belakang empat orang mahasiswa yang menonton sidang terbuka ini. Kaca itu berbicara, “Jo, bukankah 8 tahun lalu kamu juga termehek-mehek duduk di kursi serupa itu…”

Ini kali pertama saya menjadi dosen pembimbing dan penguji skripsi. Saya tak tahu, berapa lama karir sebagai “staf pengajar Ilmu Komunikasi” ini akan saya tekuni. Entah, sampai berapa Piala Dunia lagi…

This entry was posted in campus and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Menguji skripsi, memainkan teori dan empati

  1. Wah, mantab sekaloi tulisannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s