Bulan puasa dan religiusitas siaran teve

Deddy Mizwar: Sinetron Para Pencari Tuhan lebih impresif daripada ceramah di masjid.

Sinetron stripping garapan Deddy Mizwar yang hanya muncul pas ramadhan, “Para Pencari Tuhan”, ternyata pernah menuai masalah. Tahun lalu, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah melayangkan surat teguran kepada stasiun televisi Surya Citra Televisi Indonesia yang menayangkan sinetron Para Pencari Tuhan. “Ada tayangan pelecehan terhadap Tuhan, tidak mendidik, dan sangat membahayakan perilaku anak-anak dalam sinetron tersebut,” kata Kepala Divisi Pengawasan Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Tengah Zainal Abidin Petir dalam konferensi pers, sebagaimana dikutip Tempo Interaktif.

KPID Jawa Tengah menilai, SCTV telah melakukan pelanggaran pada sinetron ”Para Pencari Tuhan” dimana sang pemeran Ketua Rukun Warga, Idrus, selalu mengumpat dengan kata-kata ”Wesus” (bahasa Jawa, berarti kambing). Zainal menyatakan, ada adegan Idrus mengumpat setelah doa yang dipanjatkan kepada Allah tidak dikabulkan. ”Masak Tuhan diumpat dengan kata-kata-kata wedus,” kata Zainal. Tayangan itu ditemukan pada Kamis, 27 Agustus 2009, sekitar pukul 18.00.

Tayangan umpatan ini melanggar pasal 13 Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Dalam aturannya, isi siaran tidak boleh menyajikan penggunaan bahasa atau kata-kata makian yang mempunyai kecenderungan menghina/merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar, serta menghina Tuhan. Tentu dalam hal ini yang dimaksud adalah P3SPS yang lama, karena P3SPS yang baru ditandatangani pada 27 Desember 2009.

“Ah, yang benar saja, masak saya mengumpat Tuhan. Tentu bukan begitu maksud adegan itu. Itu mengumpat pada diri sendiri,” kata Deddy Mizwar saat saya temui di lift seusai menjadi pembicara media gathering bertema “Mewujudkan Tayangan Ramadhan Yang Bermartabat” di kantor KPI, kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Bulan puasa tahun ini sudah berjalan 2010. Seperti biasa, saat bulan ramadhan, stasiun-stasiun televisi kembali berlomba menggelar tayangan sinetron, drama, komedi, kuis bernafas religius. Tengoklah judul-judul acara seperti “Wara Wiri Ramadhan” (Trans 7), “Sketsa Ramadhan”, “Saatnya Kita Sahur” (Trans TV), “Jejak Rasul” (TPI), “Inspirasi Ramadhan” (Metro TV), “Jejak Islam”, “Titian Qolbu” (TV One) dan program-program serupa di stasiun televisi lain.

“Saya mengharapkan, momentum Ramadhan ini menjadi titik awal untuk mewujudkan siaran yang lebih sehat di bulan-bulan setelahnya,” kata Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Dadang Rahmat Hidayat pada acara itu. Pertemuan ini menjadi jembatan antara media, lembaga penyiaran televisi nasional, KPI Pusat dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, untuk membicarakan hal-hal yang  ingin dicapai terkait tayangan bulan Ramadhan

Anggota KPI Pusat Idy Muzayyad juga mengungkapkan unsur kepantasan dalam siaran televisi menjadi sangat penting.

“Tayangan Ramadhan isinya bukan hanya ceramah dan orang shalat tarawih, harus ada juga kreativitas dari lembaga penyiaran untuk membuat suatu program tayangan khusus untuk Ramadhan. Yang terpenting adalah jangan sampai menodai kesucian bulan Ramadhan,” kata Idy.

Sementara itu, Deddy Mizwar menyoroti perlunya penegakan hukum pada tayangan yang dinilai melanggar aturan. “Perlu diterapkan punishment yang jelas terhadap pelanggaran tayangan di televisi. Tanpa ada ketegasan terhadap pelanggaran atau kesalahan, akhirnya kesalahan itu akan menjadi suatu kebenaran karena sudah terbiasa,” kata Pak Haji, sapaan akrab pencetus kisah “Naga Bonar” itu.

Secara pribadi, saya menilai terobosan Deddy membuat “Para Pencari Tuhan” merupakan sebuah pencerahan dalam industri televisi kita. Sinetron itu tidak terkesan menggurui, bahkan pekan lalu ada adegan seorang ustadz yang menegur seorang tukang ojek yang didapatinya tidak berpuasa. “Kan saya Kristen, Pak Ustadz,” kata tukang Pak Ojek bermuka Ambon itu. Lantas si ustadz pun maklum dan mengajaknya bercanda.

Dedy Mizwar menegaskan betapa tayangan  “Para Pencari Tuhan” mendapat banyak apresiasi dari umat non-muslim. “Sinetron seperti ini bahkan lebih impresif daripada ceramah di masjid,” katanya. Karena itu, ia mengkritik para ustadz yang banyak mengecam sinetron ramadhan tanpa melihat tayangannya langsung, namun hanya baca sinopsisnya. “Padahal, sinopsis itu jauh sekali dengan skenario, dan dari scenario ke eksekusi lebih jauh lagi,” katanya.

Ah, seandainya semua tayangan ramadhan di televisi bisa mendidik seperti “Para Pencari Tuhan” –yang terbukti sukses secara kualitas maupun komersial, buktinya berlanjut sampai sekuel keempat.

Media gathering KPI, lembaga penyiaran, dan wartawan itu berlangsung beberapa hari menjelang Ramadhan. Di lift yang membawa kami turun dari lantai 8 Gedung Badan Pelaksana Pengembangan Tekhnologi Nuklir (Bappeten) yang menjadi markas KPI, saya bertanya ke Deddy Mizwar, mengapa masih bikin sinetron yang sama pada Bulan Puasa tahun ini. “Ya… habis Tuhannya belum ketemu, masih dicari-cari…”

This entry was posted in media analysis and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s