Pernikahan kami, setelah empat revolusi…

terus bersyukur, terus membutuhkan keberuntungan

Kalau Anda membaca blog ini pada 19 Agustus 2010, maka pada tanggal yang sama, empat tahun silam, kami –saya dan Celi, isteri saya, tengah berdebar menjalani sebuah ritual penting dalam kehidupan bernama pernikahan. Sabtu itu ada dua ritual. Satu ritual keagamaan, di kapel Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta, dan satu lagi, bakda tengah hari, jamuan untuk kerabat dan teman di Wisma Kagama, Universitas Gajah Mada.

Kini, empat revolusi telah berlalu. Sebagaimana bumi mengitari matahari berevolusi dalam setahun, kami telah empat kali mengelilingi sang surya. Bersama-sama. Kini bahkan dunia menjadi ramai dengan teriakan-teriakan Mikhael Einzel Raharjo, “orang ketiga” dalam perjalanan kami yang hadir sejak 14 November 2007. Einzel yang sama, yang Selasa malam kemarin meniup “lilin” perayaan kami di sebuah warung saji di Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat.

Album foto berisi perjalanan empat tahun revolusi tak hanya berisi satu warna. Ada warna kelabu. Seperti tangisan ketika anak tak juga hadir, ketika pekerjaan yang ideal tak kunjung tiba, ketika keinginan seperti jauh dari panggang dari api, atau seperti umumnya pasangan, ketika perbedaan menjadi alasan untuk berkelahi. Bersuara keras, membanting pintu, atau saling berdiam.

Tapi album itu juga punya warna cerah. Saat berlari-lari bertiga di Pantai Seminyak. Saat kecapekan tersesat di Orchard Road. Saat berboncengan motor ke Sengkaling. Saat berpose riang di Kawah Putih. Semua adalah sejarah, setiap detik dalam revolusi. Dan tentu saja, belum akan berakhir…

prosesi saling hilangkan ego

Terimakasih Tuhan, terimakasih Celi, terimakasih Einzel, terimakasih semua, yang telah membantu kami untuk terus memutari matahari…

Mas Agustinus Eko Rahardjo, atas rahmat Allah yang Mahakasih dan di hadapan GerejaNya yang Mahakudus serta seluruh umat yang hadir, saya menyatakan untukmemilih engkau menjadi suamiku.

Saya akan selalu mencintaimu dalam suka dan duka, di waktu sehat maupun sakit, dalam untung dan malang seumur hidupku. Aku berjanji menghayati perkawinan ini sebagai sebuah kesetiaan dan komitmen bersama. Melalui perkawinan ini saya ingin berbagi hidup denganmu dengan kelemahan dan keterbatasanku. Dan akan menjadikan perkawinan ini suci agar dapat membawa berkat dan cinta Allah bagi keluarga dan sesama.

duet maut, duet sampai maut

Masihlah panjang, Jalan hidup mesti ditempuh S`moga tak lekang oleh waktu…

This entry was posted in family and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s