Halo… per Januari 2012, personal site saya boyongan ke www.jojoraharjo.com
See u there!
jojo@jojoraharjo.com, 08155557343
Halo… per Januari 2012, personal site saya boyongan ke www.jojoraharjo.com
See u there!
jojo@jojoraharjo.com, 08155557343
Banyak ramalan beredar di tahun baru. Apapun yang terjadi, satu hal sudah pasti di tahun ini: Media baru akan semakin menggejala.

Liputan Final SEA Games di tengah kerumunan supporter Malaysia. Pesan damai, bukan provokasi. (Dokumentasi: Kompas TV)
Baru saja saya menutup sebuah tabloid hiburan yang terbit dalam edisi awal tahun, dengan berita sampul perceraian seorang pemain film belia dengan pengusaha muda, anak mantan pejabat negeri ini. Dalam halaman mengenai ramalan-ramalan peristiwa di 2012, tabloid itu menulis antara lain: bakal ada tiga atau empat artis meninggal sekaligus dalam sebuah kecelakaan, seorang penyanyi perempuan bakal buka kartu atas prahara cintanya selama ini, anak kedua presiden menantikan momongan, si pemyanyi A bakal makin moncer go international, si penyanyi A lain bakal bebas dari penjara, dan lain-lain.
Pertengahan pekan lalu menjadi hari tak terlupa saat saya mendapat undangan menjadi pembicara “Pelatihan Jurnalistik Supporter Sepakbola” di Puncak, Bogor. Apa yang menarik dari acara ini? Baiklah, mungkin Anda pernah mendengar kisah pendukung Persebaya Surabaya –lazim disebut bonek alias bondo nekat- datang ke Jakarta menumpang kereta ekonomi demi pendukung tim idolanya “Green Force” berlaga ke Senayan. Itu cerita biasa. Tapi, bagaimana kalau supporter sepakbola dari beberapa klub datang dengan moda KA ekonomi nan sesak itu dengan tujuan mengikuti pelatihan jurnalistik di sekitar Jakarta? Saya kira ini baru berita.
Memori anak kecil begitu kuat. Semangat Garuda akan membawanya memenangkan kehidupan.
Bukan tanpa alasan saya mengajak Einzel menonton film “Garuda di Dadaku 2” di hari-hari awal pemutarannya di gedung bioskop. Dari film garapan KG Production berdurasi 99 menit ini, kita belajar tentang banyak hal: nasionalisme, kerja keras, persahabatan, keharmonisan keluarga, dan lain-lain.
Barangsiapa bisa menyetir mobil dengan tenang, ia bisa menguasai dunia. (Jojo Raharjo)
Seorang kawan bercerita, ia melalui seleksi masuk menjadi wartawan di sebuah media dengan tes yang amat unik. Pemimpin koran itu mengajaknya masuk mobil, dan meminta kawan ini memegang setir untuk berputar-putar keliling kota. Sembari tetap konsentrasi mengendalikan mobil, calon wartawan ini diajak ngobrol ngalor-ngidul tentang data dirinya, visi-misi hidup, cita-cita, impian-impiannya di dunia kerja dan lain-lain. “Berat sekali, karena mata harus fokus bawa mobil, sementara telinga dan mulut mesti menjawab pertanyaan dan meladeni omongan dengan benar,” katanya. Syukurlah, ia lulus tes.
Seberapa sulitkah mengendarai mobil? Apa bedanya dengan menyetir motor?
Tradisi ke makam saat hari raya, bagaimana memandangnya?
Baru-baru ini, salah satu grup di telepon pintar saya marak dengan diskusi bertema, “Apa sih perlunya pergi ke makam saat mudik?” Beberapa kawan berkomentar dengan menulis, tradisi berziarah ke makam leluhur tak terlalu signifikan, karena pada dasarnya toh roh dan jiwa mendiang orang yang kita kunjungi sudah tak di situ. Bagaimana opini Anda tentang itu?
Kalau Anda membaca blog ini pada 19 Agustus 2011, maka pada tanggal yang sama, lima tahun silam, kami –saya dan Celi, isteri saya- tengah berdebar menjalani sebuah ritual penting dalam memulai kehidupan baru bernama pernikahan. Sabtu itu ada dua ritual. Satu prosesi keagamaan, pagi di Kapel Bellarminus, Universitas Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta, dan satu lagi, bakda tengah hari, jamuan untuk kerabat dan teman di Wisma Kagama, Universitas Gajah Mada.
Orang nomer satu di jajaran kepolisian daerah Jakarta Raya berjanji memprioritaskan UU Pers dalam setiap penyelesaian sengketa yang melibatkan jurnalis dan media.
Hampir satu jam menjelang sholat dhuhur di hari ketiga ramadhan, Kepala Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya, Inspektur Jenderal Untung Suharsono Radjab menerima perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di ruang kerjanya. “Pertama-tama, kami ucapkan selamat bertugas sebagai Kapolda Metro Jaya. Dalam hal ini, kita mengemban misi yang sama, mewujudkan polisi dan wartawan yang profesional,” kata Sekjen AJI Indonesia, Jajang Jamaludin.
Dunia media telah berubah. Meninggalkan dunia konvensional alias “old media”, kini kita memasuki era 2.0, yang sering disebut sebagai “new media”. Pengertian media baru di sini tak lain karena dunia, dengan segala perkembangan teknologi internet yang menyertainya, telah melupakan era konservatif yakni era penerbitan. Memang, koran, tabloid, dan majalah tak seketika berhenti seperti pernah disuarakan Rupert Mordock dan Bill Gates, tapi kehadiran internet dan varian penyertanya –di antaranya yang kita kenal sebagai jejaring sosial- membawa revolusi besar.
Pada penanggalan 15 Juli ini, berarti tepat dua bulan saya berada di kantor baru, Kompas TV. Tentu ungkapan awal adalah bersyukur atas semuanya, atas segala yang terjadi sehingga bisa sampai di institusi ini, dan juga atas menit-menit awal perjalanan di sini.